Torehan Sejarah dan Ambisi Piala Dunia: Babak Baru Futsal Indonesia Usai Runner-Up Piala Asia 2026
SinPo.id - Tim nasional futsal Indonesia menorehkan tinta emas dalam sejarah perkembangan futsal tanah air dengan mengunci posisi runner-up Piala Asia 2026. Meski mencatatkan prestasi tertinggi sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia, sang arsitek, Hector Souto, mengaku masih menyimpan kesedihan mendalam.
Drama Final yang "Masih Terasa Sakit"
Laga final yang berlangsung di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu lalu, menjadi saksi betapa dekatnya Indonesia dengan takhta juara. Pasukan Garuda sempat membalikkan keadaan menjadi 3-1, memimpin 4-3 di waktu normal, hingga nyaris mengunci kemenangan 5-4 pada dua menit terakhir tambahan waktu. Namun, Iran menyamakan kedudukan menjadi 5-5 dan akhirnya menang 4-5 di babak adu penalti.
"Masih terasa sakit," kata Souto membuka caption di unggahan Instagram resminya, Selasa. "Saya masih tidak percaya sejauh apa kita telah melangkah dengan begitu kuat. Namun saya juga belum bisa memaafkan diri karena membiarkan sebuah final yang sudah ada di tangan kita terlepas," lanjut pelatih asal Spanyol tersebut.
Meskipun publik merasa bangga, Souto merasa ada yang janggal karena keyakinannya bahwa Indonesia seharusnya keluar sebagai pemenang. "Walaupun banyak yang memberi selamat, di dalam pikiran saya masih terasa bahwa kita seharusnya bisa melakukannya. Bahwa Indonesia pantas mendapatkannya," ucap Souto.
Komitmen Jangka Panjang Menuju Piala Dunia 2028
Kekecewaan ini justru menjadi pemantik semangat baru. Ketua Umum Federasi Futsal Indonesia (FFI), Michael Victor Sianipar, memberikan jaminan penuh bahwa Hector Souto akan tetap memimpin timnas sesuai durasi kontrak hingga 2028.
"Ya, kalau saya sih sama sekali tidak pernah sedikit pun terpikir untuk mengganti pelatih. Saya sangat puas. Indonesia sangat puas," tegas Michael Sianipar. Ia menambahkan, pembaharuan kontrak telah rampung bahkan sebelum ajang Piala Asia dimulai. "Saya yakin semua di komunitas futsal sangat puas. Bahkan saya akan bilang bahwa Indonesia sangat beruntung, sangat beruntung punya pelatih seperti Hector."
Target besar Souto kini beralih ke level global. "Kami ingin membawa kebahagiaan untuk seluruh negeri dan membuktikan bahwa futsal adalah olahraga masa depan ketika dijalankan dengan visi, perencanaan, dan keberanian. Dan kita sudah melihatnya. Kita sudah membuktikannya," pungkas pelatih berusia 44 tahun tersebut.
Membangun Ekosistem dan Liga Internasional
Keberhasilan Indonesia menembus final tanpa melalui proses naturalisasi instan menjadi bukti sehatnya ekosistem futsal akar rumput di tanah air. Futsal tumbuh subur melalui jenjang sekolah dan universitas yang memiliki filosofi jelas: intens, agresif, dan kolektif.
Untuk mendukung level internasional, PT Kompetisi Futsal Indonesia (KFI) mulai mengembangkan Pro Futsal League (PFL). Upaya ini diperkuat dengan penunjukan Presiden klub Spanyol AE Palma, Jose Tirado, sebagai penasihat teknis PFL. Tirado bertugas memantau bakat pemain Indonesia yang potensial diboyong ke Liga Spanyol, sekaligus membantu struktur manajemen klub agar lebih profesional.
Denda AFC dan Harapan Bonus Pemerintah
Di tengah euforia prestasi, PSSI mengonfirmasi adanya sanksi denda dari AFC senilai total 14.000 dolar atau sekira Rp235 juta akibat insiden penonton masuk ke lapangan di beberapa laga. Anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga, memastikan tidak akan melakukan banding. "Ya diterima dari AFC. Supaya netizen banyak yang mengerti ya kalau futsal itu di bawah PSSI. Pembiayaan juga kita yang tanggung. Futsal kemarin di Piala Asia itu besar yang kita biayai," ujarnya.
Terkait apresiasi bagi pemain, Michael Victor Sianipar berharap pemerintah memberikan perhatian lebih berupa bonus prestasi. "Tentu ini juga menjadi pertanyaan dari para pemain ya, ada juga yang sudah sampaikan ke saya bahwa mereka berharap ada apresiasi, begitu. Tapi kalau bicara saya, saya juga jujur saja sebagai Ketua Umum kapasitas saya terbatas gitu," ungkap Michael. Ia berharap prestasi di Piala Asia ini dipandang setara dengan prestasi kontingen Indonesia di SEA Games.
