Dampak Jika Sensori Anak Belum Tertata, Ini Penjelasan Praktisi PAUD

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 10 Februari 2026 | 22:35 WIB
Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Ester Terviana (SinPo.id/Istimewa)
Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Ester Terviana (SinPo.id/Istimewa)

SinPo.id - Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Ester Terviana berpandangan, ketuntasan sensori ditandai dengan kondisi ketika sistem indera anak mampu menerima, mengolah, dan merespons rangsangan secara seimbang. 

Menurut Ester, jika anak belum tertata sensorinya, maka akan berdampak anak tidak bisa diam, mudah tantrum, menolak aktivitas meja, dan terlihat tidak fokus.

Dikatakan Ester, anak dengan tantangan sensori, menghabiskan banyak energi hanya untuk mengatur tubuhnya. Pasalnya, otak anak berada pada mode bertahan hidup, bukan mode belajar.

"Fokus dan daya tahan belajar menjadi rendah. Semakin dipaksa belajar, anak justru semakin menolak," ujar Ester saat berbicara di hadapan ratusan orang tua didik PAUD & TK Anak Cerdas, Ungaran, di gedung Balairung, Balai Bahasa Jawa Tengah, dikutip Selasa, 10 Februari 2026.

Lantas, seperti apa urutan perkembangan yang sehat. 

Menurut Ester, perkembangan anak itu berurutan, tidak bisa dilompati. Melompati tahapan membuat anak belajar dengan tekanan, bukan kesiapan menuntut calistung tanpa regulasi sensori, seperti belajar sepeda tanpa keseimbangan.

"Ketika urutannya tepat, belajar akan terasa lebih ringan dan alami. Ingat parents, belajar dimulai dari tubuh, bukan dari buku," terang Ester yang juga konsultan pendidikan. 

Karena itu, menurut Ester, ketuntasan sensori harus didahulukan. Yakni dengan membangun jalur saraf, mengintegrasikan gerak dan indera, serta membentuk regulasi emosi.

"Bermain adalah cara anak belajar, gerak adalah cara otak anak berkembang. Eksplorasi adalah latihan berpikir, maka bermain bukan lawan belajar, tetapi jalan menuju belajar," tegas Ester.

Ester mengingatkan parents, bahwa ketuntasan sensori adalah pondasi belajar anak. Bangun tubuh yang siap, maka otak akan siap belajar. Bermain, bergerak, dan eksplorasi adalah cara anak menyiapkan diri untuk belajar.

"Jadi, anak tidak perlu dipercepat. Anak perlu didukung sesuai tahapnya," pungkas Ester.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI