KP2MI Serap Aspirasi Agensi Luar Negeri Soal Lamanya Pengurusan Visa Pekerja Migran

Laporan: Tio Pirnando
Senin, 09 Februari 2026 | 19:41 WIB
Wamen P2MI Christina Aryani ditemui  agensi tenaga kerja luar negeri. (SinPo.id/dok. KP2MI)
Wamen P2MI Christina Aryani ditemui agensi tenaga kerja luar negeri. (SinPo.id/dok. KP2MI)

SinPo.id - Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani, mendengar masukan dan keluhan perwakilan agensi tenaga kerja luar negeri terkait kendala proses penempatan pekerja migran Indonesia, khususnya soal pengurusan visa.

Saat menerima perwakilan Opus Recruitment SRL, agensi tenaga kerja dengan konsentrasi sektor hospitality, Christina mengakui proses visa di beberapa negara tujuan masih memerlukan waktu cukup lama, sebab dilakukan secara manual. Sehingga berpotensi menghambat jadwal penempatan pekerja migran. 

"Kami mendengarkan langsung masukan dari agensi luar negeri terkait kendala visa, terutama ketika jumlah pekerja yang diproses cukup besar. Ini menjadi perhatian kami karena penempatan seringkali dibatasi tenggat waktu," kata Christina di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Senin, 9 Februari 2026. 

Terkait penempatan di Bulgaria, lanjut Christina, sebagian besar pekerjaan sektor hospitality bersifat musiman dengan durasi 5-6 bulan dan pekerja migran diharapkan tiba pada awal April, seiring dimulainya musim wisata di negara tersebut. 

"Jika proses visa memakan waktu terlalu lama, maka peluang kerja tersebut bisa terlewat. Ini tentu perlu kita carikan solusi bersama," ujarnya. 

Christina menegaskan, Kementerian P2MI terbuka terhadap masukan dan akan menindaklanjuti berbagai kendala administratif yang menghambat penempatan pekerja migran secara prosedural.

"Kami ingin memastikan proses penempatan berjalan lebih efisien tanpa mengurangi aspek kehati-hatian dan pelindungan. Masukan dari mitra luar negeri penting untuk perbaikan sistem," ujarnya. 

Selain Bulgaria, pertemuan itu juga membahas peluang penempatan pekerja migran sektor hospitality ke Malta dan Siprus, yang ke depan dinilai memiliki peluang peningkatan.

Menurut Christina, Indonesia memiliki keunggulan di sektor hospitality dibanding negara lain seperti Nepal, India, Bangladesh, dan Pakistan. 

"Terutama pekerja migran dari Bali yang sudah terbiasa dengan ekosistem hospitality. Bali memiliki industri perhotelan yang kuat dan menjadi tempat magang yang baik untuk memperoleh pengalaman langsung di sektor ini," pungkas Christina.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI