Wamenkes Ingatkan Bahaya Virus Nipah, WHO Catat Dua Kasus di India

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 03 Februari 2026 | 04:13 WIB
ilustrasi virus
ilustrasi virus

SinPo.id -  Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa virus nipah merupakan penyakit yang sangat infeksius dan mematikan. Ia bersyukur hingga kini virus tersebut belum masuk ke Indonesia, namun menekankan pentingnya kewaspadaan nasional.

“Nipah itu terjadi di India sejak September tahun lalu. Ada dua kasus, tapi India tahu bahwa itu sangat infeksius dan mematikan. Mereka langsung lockdown kencang supaya jangan sampai lepas. Kita bersyukur sampai hari ini belum sampai Indonesia, moga-moga jangan sampai,” ujar Benjamin di Istana, Jakarta, Senin 2 Februari 2026 malam.

Benjamin menjelaskan bahwa Thailand sudah menerapkan aturan ketat di bandara, sementara India sejak lama melakukan blokade kasus. Meski jumlah kasus sejak 1998 belum mencapai 1.000, ia menekankan bahwa tingkat infeksi virus nipah sangat tinggi.

Kemenkes Perkuat Karantina

Benjamin memastikan Kementerian Kesehatan memperkuat pengawasan di seluruh bandara melalui Balai Karantina Kesehatan. Ia menyebut pengecekan rutin dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta, baik di terminal kedatangan maupun keberangkatan.

Terkait gejala, ia menjelaskan bahwa penderita biasanya mengalami demam, lalu berkembang cepat menjadi infeksi berat di paru-paru yang menyebabkan pneumonia dengan angka kematian tinggi.

Laporan WHO: Dua Tenaga Kesehatan Positif Nipah

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui publikasi Disease Outbreak News (DONs) pada 30 Januari 2026 melaporkan dua kasus virus nipah di Bengala Barat, India.

Adjunct Profesor Universitas Griffith Australia, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa kasus tersebut menimpa dua tenaga kesehatan muda berusia 20–30 tahun yang bekerja di rumah sakit swasta di Barasat.

Gejala berat muncul akhir Desember 2025

Dirawat di awal Januari 2026

Dikonfirmasi positif Nipah pada 13 Januari 2026 melalui pemeriksaan RT-PCR dan ELISA di India National Institute of Virology (NIV), Pune

“Reputasi NIV memang sangat baik dan diakui internasional. Indonesia juga perlu memiliki institusi serupa dengan kapasitas diagnostik yang kuat,” ujar Prof. Tjandra, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI