IHSG Terjun, Ekonom: Negara Sudah Bergerak, tapi Pasar Belum Percaya
SinPo.id - Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menilai, kejatuhan kembali Indeks Harga Saham Gabungan pada 2 Februari 2026, hingga menjelang tengah hari ambles lebih dari 5 persen ke level sekitar 7.884, merupakan sinyal kepercayaan belum pulih. Meskipun, Minggu kemarin, pemerintah telah bergerak cepat melakukan koordinasi lintas kementerian/lembaga untuk meredam gejolak pasar.
"Kita harus jujur mengakui, langkah pemerintah pada Sabtu dan Minggu patut diapresiasi. Dalam banyak kasus, justru kepanikan muncul karena negara lambat atau saling lempar tanggung jawab. Kali ini tidak. Negara hadir, berbicara, dan mencoba memimpin narasi," kata Achmad dalam keterangannya, Senin, 2 Februari 2026.
Menurut Achmad, pesan yang disampaikan pemerintah sangat jelas, yaitu fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, gejolak IHSG dipandang sementara, serta reformasi pasar modal akan dipercepat. Pesan tersebut sangat penting untuk mencegah kepanikan massal dan menjaga optimisme publik.
"Masalahnya, pasar modal bukan hanya mendengar kata-kata. Pasar membaca arah. Dan pada Senin pagi, arah itu belum cukup meyakinkan. Sering kali kita mengira pasar jatuh karena panik. Padahal yang terjadi sekarang lebih tepat disebut ragu. Investor global dan domestik tidak sedang histeris. Mereka sedang berhitung," ujarnya.
Achmad menilai, peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebelumnya bukan tentang emosi, tetapi tentang kualitas pasar, transparansi kepemilikan saham, free float yang terlalu tipis, integritas data perdagangan.
"Ini bukan isu baru, tapi kali ini sorotannya terang. Ketika masalahnya struktural, maka respons psikologis tidak cukup. Pernyataan stabilitas bisa menenangkan satu dua jam, tetapi begitu bursa dibuka, keputusan kembali ke tangan investor. Dan mereka memilih menjual atau menunggu. Itulah sebabnya IHSG tetap tertekan sejak pembukaan hingga siang hari pada 2 Februari," ucapnya.
Achmad menganggap, pasar pqda Senin pagi ini, menyampaikan pesannya dengan jujur. Penurunan IHSG ke sekitar 7.884 adalah bentuk ketidakpercayaan, bukan perlawanan. Investor saat ini masih menunggu bukti atau tindakan, bukan janji reformasi.
Reformasi pasar modal yang akan dilakukan pemerintah harus benar-benar menyentuh akar masalah, meski tidak populer dan menyentuh kepentingan besar. Kemudian, dana pensiun dan asuransi harus dilindungi, bukan dijadikan bantalan kejatuhan indeks. Danantara harus dibangun sebagai institusi investasi jangka panjang yang kredibel, bukan alat stabilisasi jangka pendek.
"IHSG yang terjun pada 2 Februari 2026 bukan sekadar cerita tentang saham. Ini cerita tentang kepercayaan. Negara sudah hadir, itu benar. Tetapi pasar menuntut lebih dari kehadiran. Pasar menuntut kepastian bahwa aturan adil, data bersih, dan risiko tidak dialihkan ke rakyat. Jika itu bisa dijawab, IHSG akan pulih dengan sendirinya. Jika tidak, setiap penenangan hanya akan menjadi jeda singkat sebelum penurunan berikutnya. Dan yang paling berbahaya, yang jatuh bukan hanya indeks, tetapi rasa aman masyarakat atas masa depan keuangan mereka," tandasnya.
