Trump Tanggapi Ancaman Khamenei, Israel Nilai Serangan AS ke Iran Belum Terjadi dalam Waktu Dekat

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 02 Februari 2026 | 05:33 WIB
IRAN
IRAN

SinPo.id -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang memperingatkan bahwa serangan militer AS terhadap Iran akan memicu perang regional. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan saat kunjungannya ke Mar-a-Lago, Florida, pada Minggu waktu setempat.

“Kenapa dia tidak mengatakan itu? Tentu saja dia akan mengatakannya,” ujar Trump menanggapi ancaman Khamenei.

Trump menegaskan kekuatan militer Amerika Serikat saat ini berada dalam posisi strategis di kawasan.

“Kami memiliki kapal-kapal terbesar dan terkuat di dunia di sana, sangat dekat,” katanya. Meski demikian, Trump masih membuka peluang diplomasi. “Mudah-mudahan, kami bisa membuat kesepakatan,” ujarnya.

Namun, Trump juga menegaskan bahwa kegagalan diplomasi dapat membuka opsi lain. “Jika tidak ada kesepakatan, maka kita akan melihat apakah dia benar atau tidak,” tambahnya, tanpa merinci langkah lanjutan yang dimaksud.

Israel Pantau Ketat Langkah Washington

Di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, para pejabat Israel menilai kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran dalam waktu dekat relatif kecil. Penilaian tersebut disampaikan pada Minggu, di saat hubungan Washington–Teheran memasuki fase yang disebut sangat sensitif.

Pejabat Israel menyebutkan bahwa saat ini mereka memantau pergerakan dan sinyal kebijakan Amerika Serikat secara intensif. Hubungan kedua negara digambarkan tetap strategis, namun terdapat sejumlah celah yang menyulitkan perencanaan Israel, termasuk perbedaan informasi intelijen, perbedaan penilaian atas niat politik, serta keterbatasan Israel dalam memengaruhi keputusan AS secara real time.

Menurut penilaian yang berkembang di Yerusalem, potensi aksi militer lebih mungkin dibicarakan dalam hitungan minggu, bukan hari. Meski demikian, Israel mengkhawatirkan kemungkinan hanya menerima peringatan singkat jika Washington akhirnya memilih opsi militer.

Kekhawatiran Israel atas Program Rudal Iran

Selain isu serangan militer, fokus utama Israel tertuju pada arah diplomasi AS-Iran. Pejabat Israel menilai ancaman utama bukan hanya program nuklir Iran, tetapi juga kemampuan rudal balistik Teheran yang terus berkembang.

Israel khawatir kesepakatan parsial yang hanya membatasi program nuklir, namun mengabaikan rudal balistik, justru memberi Iran ruang untuk memperkuat kemampuan militernya. Isu tersebut, menurut laporan, kerap muncul dalam pembicaraan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Donald Trump.

Iran sendiri disebut tetap bersikukuh bahwa rudal balistik merupakan kapabilitas kedaulatan negara dan alat penyeimbang terhadap keunggulan udara AS dan Israel.

Diplomasi atau Konfrontasi

Pejabat Israel menilai kedua jalur—militer maupun diplomasi—sama-sama mengandung risiko. Jika serangan militer terjadi, Iran diperkirakan akan melakukan pembalasan yang signifikan, namun berusaha menghindari eskalasi perang total. Sebaliknya, jika tercapai kesepakatan yang tidak menyentuh isu rudal, Iran dinilai tetap dapat meningkatkan jangkauan dan akurasi persenjataannya.

Dalam beberapa pekan terakhir, Israel dilaporkan meningkatkan upaya diplomatik dan intelijen untuk memengaruhi pengambilan keputusan AS, dengan tujuan memastikan isu rudal tetap menjadi bagian utama dalam setiap kebijakan Washington terhadap Iran.

Sementara itu, pemerintahan Trump menegaskan tidak mengejar perubahan rezim di Iran. Duta Besar AS untuk NATO, Matt Whitaker, menyatakan Washington tidak ingin mengulangi skenario Libya. “Kami tidak menginginkan kekacauan seperti yang terjadi setelah jatuhnya Gaddafi,” ujarnya.

Trump sendiri kembali menegaskan bahwa tujuannya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir. “Mereka sedang berbicara dengan kami. Benar-benar berbicara,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa hasil akhir negosiasi masih belum dapat dipastikan.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI