Tekanan Global Meningkat, DPR Dorong Industri Nasional Beralih ke Green Industry

Laporan: Galuh Ratnatika
Minggu, 01 Februari 2026 | 09:15 WIB
Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini (SinPo.id/EMediaDPR)
Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini (SinPo.id/EMediaDPR)

SinPo.id - Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini, menegaskan pentingnya implementasi transformasi industri hijau (green industry) sebagai strategi bertahan di tengah krisis dan tekanan ekonomi global.

Pasalnya, ketidakpastian ekonomi global kian menekan industri nasional, dan telah berdampak langsung, tidak hanya pada industri besar, tetapi juga ke tingkat rumah tangga dan petani.

Pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga energi, hingga ketegangan geopolitik, dinilai menjadi kombinasi ancaman serius bagi keberlanjutan sektor industri dalam negeri.

“Tekanan ekonomi hari ini nyata dirasakan masyarakat dan pelaku industri. Kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya produksi," kata Novita, dalam keterangan persnya, dikutip Minggu, 1 Februari 2026.

"Tanpa transformasi yang serius dan berkelanjutan, industri nasional berisiko stagnan bahkan tergerus krisis global," imbuhnya.

Adapun salah satu yang menjadi sorotan adalah langkah PT Japfa Comfeed Indonesia di Provinsi Lampung. Pihaknya mengapresiasi langkah awal PT Japfa yang mulai memanfaatkan energi surya sebagai sumber energi terbarukan.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa industri hijau tidak boleh berhenti pada simbol atau sekadar penggantian sumber listrik.

“Green industry bukan hanya soal panel surya. Transformasi harus menyentuh manajemen limbah, perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, dan dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Jika tidak, konsep hijau hanya menjadi jargon,” tegasnya.

Ia pun mendorong agar PT Japfa dapat menjadi pilot project industri hijau di sektor pangan, yang benar-benar menerapkan prinsip keberlanjutan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir.

Selain aspek lingkungan, Novita juga menyoroti keadilan ekonomi dalam ekosistem industri pangan. Ia mengingatkan agar perusahaan besar tidak bergerak eksklusif dan menutup ruang bagi pelaku usaha kecil.

“Sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden tentang kemandirian dan kedaulatan pangan, industri besar tidak boleh berjalan sendiri. Harus ada ruang kolaborasi yang nyata bagi UMKM dan usaha mikro, agar manfaat kemajuan industri dirasakan hingga ke lapisan ekonomi terbawah,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan transformasi industri hijau tidak hanya diukur dari efisiensi energi atau capaian produksi, tetapi dari sejauh mana industri mampu bertahan di tengah krisis global, menjaga lingkungan, dan menciptakan keadilan ekonomi.

“Kalau tidak berani berubah sekarang, industri nasional bukan hanya kalah bersaing, tapi bisa tergilas oleh krisis global,” pungkasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI