Cerita Pilu Dari Cisarua
Aspek urbanisasi menjadi salah satu faktor terjadinya longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Hal itu disebabkan perubahan tata guna lahan di sekitar area.
SinPo.id - Pagi masih gelap ketika suara gemuruh di antara hujan mengejutkan warga penguni perkampungan di kawasan Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu 24 Januari 2026. Suara gemuruh membelah keheningan ketika warga sedang tidur sekitar pukul 03.00 WIB, ketika air bah disertai material tanah bebatuan telah menerjang dan mengubur sejumlah pemukinaman di antaranya Kampung Pasir Kuning, Pasir Kuda di Desa Pasir Langu.
“Awalnya warga suara gemuruh keras yang datang dari arah perbukitan sekitar pukul 03.00 WIB. Suara mirip dentuman besar atau suara pesawat,” ujar Deni seorang warga selamat dikutip dari detik.com.
Menurut Deni, aliran material tanah bercampur lumpur dan batu meluncur deras dari lereng Gunung Burangrang, menyapu permukiman dua kampung masing-masing Pasirkuning, Pasir Kuda Desa Pasirlangu. Sekitar 30 30 rumah warga di kampung tersebut dilaporkan tertimbun material longsor dengan kedalaman mencapai beberapa meter.
“Banyak bangunan rusak berat hingga tak lagi terlihat bentuk aslinya,” ujar Deni menambahkan.
Deni beruntung rumah yang ia huni aman, namun ia masih ingat betul suara gemuruh dan tanah bergetar. Ia sempat melihat ke luar rumah, namun suasana gelap gulita sehingga tak bisa melihat apa-apa, namun beruntung ia sempat menyelamatkan keluarganya di rumah.
Kesaksian serupa datang dari Wahyu, warga lainnya. Ia mengaku terbangun karena suara bergemuruh yang sangat keras dari arah perbukitan. “Ada suara bergemuruh sangat keras. Saat dilihat ke lokasi, tanah dari titik asal longsoran sudah menerjang pemukiman warga dari Pasirkuning sampai Pasir Kuda,” ungkap Wahyu dikutip dari TribunJabar.id.
Longsoran membawa material datang begitu cepat sehingga banyak warga tidak sempat menyelamatkan harta benda, bahkan sebagian terjebak di dalam rumah. Catatan Badan penaggulangan bencana menyebutkan selain korban meninggal dan luka, terdapat 82 lainnya sebelumnya dinyatakan hilang hingga Sabtu siang. Sedangkan total 113 jiwa dari 34 kepala keluarga dilaporkan terdampak langsung oleh bencana ini.
Banjir dan longsor di Cisarua tak hanya memakan korban warga sipil, namun juga terdapat 23 prajurit TNI dari satuan Marinir ikut tertimbun longsor di Desa Pasirlangu. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan hingga Senin 26 Januari lalu terdapat empat personel marinir ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sedangkan sisanya masih dalam pencarian.
"Terdapat 23 anggota marinir yang tertimbun longsor. Saat ini sudah ditemukan baru empat personel dalam kondisi meninggal dunia, dan yang lain belum ditemukan," kata Ali di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 26 Januari 2026.
Menurut Ali peristiwa longsor yang menimpa para personel marinir itu terjadi saat mereka sedang latihan pratugas. "Mereka sedang melaksanakan latihan pratugas untuk dikirim melaksanakan Pam Perbatasan RI-PNG (Indonesia-Papua Nugini), memang dilaksanakan latihan di sana," kata Ali menjelaskan.
Incident Commander longsor Desa Pasirlangu, Ade Zakir, mengatakan, pendataan korban sipil dan korban dari unsur TNI ditangani secara terpisah. Posko bencana hanya mencatat korban dari kalangan warga. "Itu di luar Basarnas kami. Pendataan korban TNI tidak masuk ke sini karena ada tim khusus yang menangani," ujar Ade Zakir.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman memastikan sinergi dalam penanganan korban dari unsur TNI dan sipil yang tetap dikoordinasikan dengan institusi militer. "Koordinasinya dengan pihak Kodam dan TNI. Kami fokus pada pencarian 84 warga. Dalam praktiknya tetap bersinergi, tetapi data korban TNI ditangani sendiri," kata Herman.
Tim SAR gabungan masih melanjutkan upaya pencarian korban longsor, baik dari kalangan sipil maupun prajurit TNI, dengan pola kerja dan komando yang berbeda sesuai kewenangan masing-masing institusi.
Catatan sinpo.id hingga Kamis 29 Januari kemarin menyebutkan Tim SAR gabungan telah mengevakuasi 53 korban tewas. Sedangkan 27 korban lainnya masih dicari. "Korban jiwa sudah berhasil evakuasi ada 53, lalu 27 korban masih dalam tahap pencarian," kata Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun.
Menurut Teten, korban yang telah dievakuasi itu dilanjutkan identifikasi. Sedangkan sebagian besar korban sudah berhasil dikenali identitasnya melalui proses Disaster Victim Identification (DVI) Polri, sementara sisanya masih menunggu kepastian.
"Yang sudah terindentifikasi ada 37 korban jiwa, 16 lainnya masih dalam proses identifikasi," ujar Teten menjelaskan.
Waspada Longsor Susulan
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi longsor susulan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama.
"Faktor pemicu utama adalah curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian, yang menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadinya kegagalan lereng," ujar Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria.
Lana menjelaskan, selain faktor hujan, gerakan tanah di Desa Pasirlangu juga dipengaruhi kondisi geologi setempat didominasi batuan gunung api tua yang telah lapuk, kemiringan lereng curam, serta keberadaan rekahan dan sesar geologi.
Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), wilayah terdampak termasuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Pada zona ini, gerakan tanah berpotensi terjadi terutama pada lereng yang telah mengalami gangguan, baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia, khususnya saat hujan deras berlangsung lama.
“Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, serta sistem drainase permukaan yang belum optimal, turut memperbesar risiko longsor dan menurunkan kestabilan lereng di kawasan perbukitan tersebut,” ujar Lana menjelaskan.
Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas.
Badan Geologi mengimbau masyarakat yang tinggal di dekat lereng curam untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat dan setelah hujan deras, mengingat potensi terjadinya gerakan tanah susulan masih tinggi.
Badan Geologi juga mengingatkan agar keselamatan petugas di lapangan dalam proses penanganan bencana. "Pencarian korban hilang agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan yang bisa menimpa petugas," ujar Lana.
Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun, membenarkan ancaman potensi longsor susulan di lokasi bencana. Imam menyebut masih ditemukan indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai.
"Jika hujan kembali terjadi dengan intensitas tinggi, akumulasi air di balik sumbatan-sumbatan tersebut berpotensi kembali jebol dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir," kata Imam.
Ia menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda alam, sebagai langkah mitigasi non-struktural. Salah satu indikator yang kerap diabaikan adalah menyusut atau hilangnya aliran air sungai secara tiba-tiba saat hujan masih berlangsung, yang dapat menandakan adanya sumbatan atau pembendungan di bagian hulu.
"Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut saat hujan lebat, masyarakat harus waspada dan segera menjauh dari alur sungai," kata Imam menjelaskan.
Faktor Penyebab Musibah
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyoroti aspek urbanisasi menjadi salah satu faktor terjadinya longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Hal itu disebabkan perubahan tata guna lahan di sekitar area.
"Sebenarnya ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika, itu semua di daerah subtropis," kata Hanif.
Menurut Hanif, tanaman subtropis biasanya tumbuh di ketinggian 800 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut, sementara karakter wilayah lokal berbeda. Kementerian telah menurunkan tim ahli untuk menilai keadaan lingkungan yang terjadi secara saintis, sehingga upaya yang dilakukan terstruktur.
"Kami menurunkan tim ahli sebagaimana kami lakukan di Sumatra karena kalau bicara lingkungan ini harus saintis, tidak bisa main kira-kira guna menentukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut," ujar hanif menambahkan.
Hanif memastikan, kajian ini tak hanya melihat dampak fisik dari longsor, tetapi juga menilai aspek ekologis, seperti kondisi tanah, vegetasi, dan potensi risiko bencana susulan. Sehingga setiap langkah mitigasi bisa dilakukan secara tepat. Tim ahli itu akan segera bergabung dengan pemerintah kabupaten di bawah pimpinan bupati untuk mendalami detil terhadap landscape kawasan.
“Dan kemudian akan dilakukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut. Kami mungkin perlu waktu 1 hingga 2 minggu untuk menyelesaikan kajian detil bersama para ahli dari akademisi, dari badan riset dan lain-lain," kata Hanif menjelaskan.
Namun pendapat lain disampaikan Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun, yang mengatakan peristiwa longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, tidak hanya dipahami sebagai dampak alih fungsi lahan. Menurut dia, kejadian itu merupakan hasil interaksi faktor alamiah yang kompleks dengan berbagai faktor manusia.
“Di mana, menghasilkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu oleh kejadian longsoran di bagian hulu sistem alirannya,” ujar Imam.
Apa lagi, kata Imam, wilayah Kabupaten Bandung Barat termasuk dalam lingkungan geologi yang berada pada produk-produk vulkanik tua yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan yang relatif tebal.
“Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air, kerap menjadi bidang gelincirnya,” ujar Imam menambahkan.
Kondisi itu disebut semakin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang, yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh.
Menurut Imam, pemicu longsor tak hanya ditentukan oleh durasi hujan, melainkan juga oleh intensitasnya. Dalam ilmu kebumian dikenal hubungan antara durasi dan intensitas hujan. Hujan dengan intensitas sedang namun berlangsung lama, sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam durasi yang singkat.
Salah satu temuan penting dalam kejadian ini adalah adanya indikasi longsoran, di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang menutup alur sungai dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam). Akibatnya air tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu, bersamaan dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, hingga bongkah batu.
Meski Imam juga menyoroti pentingnya vegetasi dalam menjaga stabilitas lereng. "Selain berfungsi secara mekanik melalui perakaran yang meningkatkan kohesivitas tanah, vegetasi juga berperan secara hidrologis dengan memperlambat kejenuhan tanah oleh air hujan," katanya. (*)

