Pengamat Ingatkan Jangan Asal Pulangkan WNI dari Kamboja, Waspadai Tentara Bayaran Digital

Laporan: Tio Pirnando
Rabu, 28 Januari 2026 | 16:27 WIB
Ilustrasi otoritas Kamboja membekuk sindikat online scam. (SinPo.id/dok. Preah Sihanouk Police)
Ilustrasi otoritas Kamboja membekuk sindikat online scam. (SinPo.id/dok. Preah Sihanouk Police)

SinPo.id - Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha menilai, persoalan pemulangan massal WNI dari Kamboja yang terlibat dalam industri judi online dan penipuan digital, tidak bisa disederhanakan dengan satu label tunggal sebagai korban tindak pidana perdagangan orang. Karena, realitas di lapangan menunjukkan spektrum peran dan tingkat kesadaran yang sangat beragam. 

"Dalam konteks ini, negara perlu membangun doktrin baru yang membedakan antara korban perdagangan orang digital dan tentara bayaran digital," kata Pratama dalam keterangannya, Rabu, 28 Januari 2026. 

Pratama menjelaskan, jika WNI yang menjadi korban, harus dilindungi dan dipulihkan, sedangkan yang menjadi tentara bayaran digital adalah ancaman keamanan nasional nonmiliter berbasis kejahatan siber lintas negara. 

"Pembedaan ini bukan hanya relevan secara nasional, tetapi juga sejalan dengan praktik internasional. Tiongkok, Filipina, Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara Eropa Timur telah lama menerapkan prinsip bahwa status korban tidak bersifat otomatis," ucapnya. 

Dia menegaskan, partisipasi dengan kesadaran dan niat tetap menimbulkan pertanggungjawaban pidana, meskipun individu tersebut pernah berada dalam situasi perekrutan bermasalah.

Ia menyarankan meniru pengalaman Tiongkok dengan logika penegakan hukumnya, tentu disesuaikan dengan gaya Indonesia. Di mana, Tiongkok memisahkan secara tegas korban murni dari operator kriminal profesional, memulangkan warganya melalui mekanisme hukum, dan memproses mereka sebagai pelaku kejahatan siber lintas negara. 

"Hasilnya adalah efek jera strategis yang nyata, runtuhnya jaringan perekrutan, dan menurunnya pasokan tenaga kerja bagi sindikat. Pendekatan serupa, dengan penyesuaian pada prinsip hukum dan hak asasi manusia di Indonesia, sangat mungkin diterapkan melalui asas ekstrateritorialitas, kerja sama bilateral, dan penguatan kerangka hukum nasional," ujarnya. 

Menurut Pratama, tanpa perubahan pendekatan, Indonesia berisiko menjadi pemasok tenaga kerja kriminal digital bagi industri scam regional. Dari sudut pandang intelijen dan keamanan nasional, ini adalah ancaman serius, karena negara tidak lagi sekadar menjadi korban, melainkan bagian dari ekosistem kejahatan siber global. 

Oleh karena itu, pendekatan yang tepat bukan hanya repatriasi kemanusiaan, melainkan integrasi penegakan hukum, intelijen siber, forensik keuangan, dan asesmen psikologis. 

"Dengan cara ini, negara dapat bersikap adil, melindungi korban sejati, menghukum pelaku sadar, dan membongkar industri scam hingga ke akar-akarnya," tuturnya. 

Lebih lanjut, Pratama menerangkan, setidaknya ada tiga tipe WNI yang menjadi bagian dari industri scammer Kamboja. Pertama adalah individu yang memang sepenuhnya menjadi korban, direkrut dengan tipu daya, dipaksa bekerja, disekap, disiksa, dan sama sekali tidak mengetahui bahwa mereka akan dilibatkan dalam aktivitas kejahatan siber. 

Kedua, mereka yang pada awalnya tertipu, lalu setelah berada di dalam sistem justru beradaptasi, ikut aktif menipu karena tekanan target, insentif finansial, atau normalisasi lingkungan kerja kriminal. Ketiga adalah yang sejak awal datang dengan kesadaran penuh, mengetahui pekerjaan yang akan dilakukan, memahami bahwa target mereka adalah korban, dan secara sukarela menjadi bagian dari industri kejahatan lintas negara.

"Masalah utama di Indonesia selama ini adalah kecenderungan menyamaratakan seluruh WNI yang dipulangkan sebagai korban," kata dia. 

Pratama melanjutkan, pendekatan ini secara kemanusiaan tampak mulia, tetapi secara kriminologis dan intelijen justru berisiko menyesatkan. Dalam konteks kejahatan siber terorganisir, penyederhanaan semacam ini berpotensi menutup fakta bahwa sebagian dari mereka merupakan aktor aktif dalam kejahatan ekonomi lintas negara yang terstruktur, sistematis, dan berulang. 

"Narasi tunggal tentang korban justru dapat melemahkan efek jera, menciptakan moral hazard, dan memberi ruang aman bagi sindikat untuk terus merekrut tenaga kerja dari Indonesia," ungkapnya. 

Untuk membedakan antara korban murni dan pelaku sadar, tegas Pratama, negara tidak bisa hanya mengandalkan pengakuan atau pendekatan sosial semata. Yang dibutuhkan adalah kombinasi pendekatan forensik digital, analisis perilaku, penelusuran keuangan, dan penegakan hukum berbasis intelijen. 

Dia meyakini, melalui digital forensic profiling, aparat dapat menelusuri jejak komunikasi, skrip penipuan yang digunakan, akses ke panel manajemen korban, kepemilikan dompet kripto atau dompet elektronik, rekaman pelatihan internal, hingga struktur komando yang menunjukkan adanya target, sistem komisi, peringkat performa, serta mekanisme bonus dan hukuman. 

"Temuan-temuan semacam ini merupakan indikator kuat keterlibatan aktif sebagai pelaku, bukan sekadar korban pasif," paparnya. 

Namun, pendekatan ini harus dilengkapi dengan analisis perilaku dan wawancara kognitif oleh penyidik siber dan psikolog forensik. Korban murni umumnya tidak memahami skema besar kejahatan, menunjukkan trauma mendalam, tidak menguasai sistem teknis, dan tidak memiliki akses ke aliran keuangan.

"Sebaliknya, pelaku yang sadar biasanya mampu menjelaskan alur penipuan dari hulu ke hilir, menguasai teknik rekayasa sosial, memahami sistem pembayaran, serta mengetahui mekanisme pencucian uang. Perbedaan ini semakin jelas ketika aliran dana ditelusuri. Penelusuran komisi, rekening perantara, dan jejaring perekrutan di Indonesia akan memperlihatkan apakah seseorang berada pada posisi budak digital atau justru operator dalam kejahatan terstruktur, " tandasnya. 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI