Iran-AS Buka Jalur Komunikasi, Ketegangan Regional Terancam Meledak Jadi Perang Skala Penuh

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 28 Januari 2026 | 01:48 WIB
IRAN
IRAN

SinPo.id -  Jalur komunikasi antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff masih terbuka di tengah upaya intensif meredakan ketegangan, menurut sumber Iran yang dikutip Al-Araby Al-Jadeed. Namun, hingga kini belum ada terobosan signifikan dari pembicaraan tersebut.

Situasi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menerima laporan intelijen yang menyebutkan bahwa pemerintahan Iran berada pada titik terlemah sejak kejatuhan Shah pada 1979. Meski gelombang demonstrasi telah mereda, laporan itu menegaskan Teheran masih dalam posisi sulit.

Sumber Iran menegaskan bahwa setiap serangan AS, sekecil apa pun, akan dibalas dengan perang skala penuh di kawasan. Ancaman ini diperkuat oleh kelompok-kelompok yang didukung Iran di Timur Tengah.

Di Lebanon, pemimpin Hezbollah Sheikh Naim Qassem menyatakan pihaknya tidak akan bersikap netral jika AS menyerang Iran.

“Ketika Trump mengancam Imam Khamenei, ia mengancam puluhan juta pengikutnya. Kami wajib menghadapi ancaman ini dengan segala kesiapan,” ujar Qassem dalam siaran televisi saat ratusan orang berunjuk rasa di Beirut selatan.

Sementara itu, di Irak, kelompok paramiliter Kataeb Hezbollah juga mengeluarkan peringatan akan “perang total” jika Iran diserang.

Di sisi lain, militer AS memperkuat kehadirannya di Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln bersama kapal perusak rudal berpemandu telah memasuki perairan kawasan, sementara pangkalan AS di sekitar Iran juga diperkuat.

UAE melalui kementerian luar negerinya menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun perairannya digunakan untuk operasi militer AS terhadap Iran, menandakan sikap netral dalam potensi konflik regional.

Ketegangan ini berdampak pada ekonomi Iran. Bursa saham Iran turun selama tiga hari berturut-turut, mencatat penurunan 8,3 persen dalam sepekan. Sementara itu, kelompok HAM berbasis di AS melaporkan lebih dari 6.000 orang tewas akibat represi demonstrasi nasional di Iran, dengan 17.000 kematian lain masih dalam investigasi.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI