AS–Israel Sepakat Opsi Serangan Cepat ke Iran, Kapal Induk USS Abraham Lincoln Dikerahkan ke Timur Tengah

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 27 Januari 2026 | 07:09 WIB
Kapal Induk AS (SinPo.id/AFP)
Kapal Induk AS (SinPo.id/AFP)

SinPo.id -  Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah media Israel, Channel 14, melaporkan adanya kesepahaman antara Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk menyiapkan opsi serangan cepat dan kuat terhadap Iran jika situasi menuntut.

Laporan itu menyebutkan, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, menggelar pertemuan tertutup dengan pejabat senior militer Israel di Tel Aviv pada Minggu malam. Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu strategis, dengan fokus utama pada perkembangan terbaru terkait Iran.

Menurut Channel 14, kedua pihak memiliki pandangan yang sejalan dan sepakat untuk melanjutkan kerja sama militer secara erat. Dalam pertemuan itu, pejabat AS menegaskan bahwa kesiapan penuh menghadapi Iran membutuhkan waktu dan persiapan matang. Namun demikian, Washington menegaskan selalu siap mengambil langkah konkret bila diperlukan.

Mengutip Kantor Berita Palestina Ma’an, Cooper disebut menyampaikan bahwa pola pikir militer AS dalam menghadapi Iran mengarah pada operasi yang cepat, mendadak, dan bersih. Serangan, jika dilakukan, diperkirakan akan menargetkan pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kekerasan terhadap warga sipil dan demonstran.

Selain itu, pejabat AS disebut meyakini bahwa perubahan rezim di Iran merupakan kebutuhan utama. CENTCOM juga menegaskan komitmen AS untuk melindungi sekutu-sekutunya di Timur Tengah, termasuk Israel, serta tidak akan membiarkan mereka berada dalam ancaman.

Seiring meningkatnya tensi, AS terus mengerahkan kekuatan militernya ke kawasan. Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempurnya telah tiba di wilayah tanggung jawab CENTCOM. Kehadiran armada ini disebut bertujuan memberikan seluruh opsi dan kemampuan militer kepada Presiden Donald Trump dalam menentukan langkah terhadap Iran.

Namun, keputusan untuk melancarkan serangan disebut tidak sederhana. Salah satu tantangan bagi Trump adalah meredupnya gelombang protes di Iran setelah berminggu-minggu penindasan oleh rezim, sehingga memunculkan pertanyaan apakah ada langkah militer yang dapat memicu kejatuhan pemerintahan tanpa dukungan demonstrasi publik.

Anggota Parlemen Eropa, Sebastian Tynkkynen, kepada The Jerusalem Post mengatakan bahwa intervensi militer merupakan langkah terakhir untuk memastikan perubahan kepemimpinan di Iran. Menurutnya, upaya diplomatik harus lebih dulu melemahkan posisi Teheran. Ia juga mengungkapkan telah berdiskusi dengan Sekjen NATO Mark Rutte terkait pembentukan koalisi negara-negara NATO yang bersedia terlibat dalam intervensi militer.

Di sisi lain, eskalasi ini memicu reaksi dari kelompok-kelompok pro-Iran di kawasan. Organisasi Badr dari Irak menyatakan kesiapan mendukung Iran jika diserang, menyebut situasi saat ini sebagai “pertempuran penentuan” melawan apa yang mereka sebut sebagai “kesombongan Amerika-Israel”. Kelompok Kataib Hezbollah juga menyerukan persiapan menghadapi “perang komprehensif” demi membela Teheran.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada 23 Januari menyatakan bahwa “armada besar” sedang bergerak menuju kawasan Timur Tengah di tengah peringatan atas respons Iran terhadap gelombang protes sejak Desember 2025. Sementara itu, Iran telah memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas secara penuh. Komandan Garda Revolusi Iran, Mohammad Pakpour, menegaskan Teheran berada dalam kondisi siaga dengan “jari di pelatuk”.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI