Harga Emas Tembus Rekor US$5.000 per Ounce, Gejolak Global dan Kebijakan Trump Jadi Pemicu

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 27 Januari 2026 | 06:04 WIB
Ilustrasi.Karyawan menunjukkan sampel emas batangan di Butik Emas Antam Setiabudi One. (SinPo.id/Antara)
Ilustrasi.Karyawan menunjukkan sampel emas batangan di Butik Emas Antam Setiabudi One. (SinPo.id/Antara)

SinPo.id -  Harga emas dunia mencetak tonggak sejarah baru dengan menembus level US$5.000 per ounce untuk pertama kalinya. Reli tajam ini dipicu oleh ketidakpastian global, kebijakan geopolitik Presiden AS Donald Trump, serta pergeseran besar investor dari obligasi dan mata uang utama ke aset lindung nilai.

Menurut Bloomberg, harga emas naik sekitar 2% hingga mencapai US$5.085 per ounce, didorong pelemahan dolar AS yang meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Indeks dolar AS sendiri turun hampir 2% dalam enam sesi terakhir, di tengah spekulasi bahwa Washington akan membantu Jepang menopang yen.

Kinerja emas bahkan melampaui indeks S&P 500, dengan imbal hasil lebih dari 1.600% sejak awal abad ini. Reli emas juga diperkuat oleh aksi pembelian bank sentral dunia dan meningkatnya permintaan investor ritel.

Tak hanya emas, harga perak juga mencetak rekor baru dengan menembus US$100 per ounce, naik lebih dari 5% dalam sesi terakhir. Permintaan perak melonjak dari Shanghai hingga Istanbul, menandai tren kuat investor terhadap logam mulia.

Lonjakan harga emas mencerminkan ketakutan pasar atas berbagai isu, mulai dari perang di Ukraina dan Gaza, hingga ancaman tarif 100% Trump terhadap Kanada jika menjalin kesepakatan dagang dengan China. Kebijakan Trump yang menekan Federal Reserve, isu Greenland, serta potensi intervensi di Venezuela semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset pelindung.

“Emas adalah kebalikan dari kepercayaan. Ia melindungi dari inflasi tak terduga, koreksi pasar, dan risiko geopolitik,” ujar Max Belmont, Portfolio Manager First Eagle Investment Management.

Selain faktor geopolitik, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve juga mendorong investor beralih dari obligasi ke emas. “Biaya peluang menyimpan uang di obligasi pemerintah sudah tidak menarik lagi, sehingga orang memilih emas,” kata Ahmad Assiri, Research Strategist Pepperstone.

Permintaan emas juga meningkat dari sisi budaya. Di India, emas dibeli saat festival Diwali sebagai simbol keberuntungan, sementara di China konsumsi emas melonjak menjelang Tahun Baru Imlek. Menurut Morgan Stanley, rumah tangga India bahkan menyimpan emas senilai US$3,8 triliun, setara 88,8% dari PDB negara tersebut.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI