Kemenhaj Gandeng Bulog dan Kementan Dorong Ekspor Beras ke Saudi

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 26 Januari 2026 | 21:41 WIB
Rapat koordinasi Kemenhaj dengan Perum Bulog dan Kementan (SinPo.id/ Dok. Kemenhaj)
Rapat koordinasi Kemenhaj dengan Perum Bulog dan Kementan (SinPo.id/ Dok. Kemenhaj)

SinPo.id - Kementerian Haji dan Umrah RI mulai melakukan langkah untuk mewujudkan kemandirian pangan dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), Jaenal Effendi, menegaskan pemanfaatan beras produksi dalam negeri kini menjadi prioritas utama. Hal tersebut guna memperkuat ekosistem ekonomi haji nasional.

Dalam rapat koordinasi bersama Perum Bulog dan Kementerian Pertanian di Jakarta, Jaenal menyatakan sudah saatnya Indonesia berhenti bergantung pada pasokan beras negara lain seperti Vietnam dan Thailand untuk konsumsi jemaah haji.

“Pemenuhan konsumsi jemaah haji tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi yang kuat dengan kementerian dan lembaga terkait, seperti Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, serta para pemangku kepentingan lainnya, agar kebijakan yang disusun selaras dan rantai pasok pangan haji dapat diperkuat,” ujar Jaenal dalam keterangannya, Senin, 26 Januari 2026.

Berdasarkan proyeksi Ditjen PE2HU, kebutuhan beras untuk 205.420 jemaah dan petugas haji pada musim 1447 H/2026 M mencapai sekitar 3.913 ton. Angka ini dihitung dari asumsi konsumsi 150 gram per porsi untuk 127 kali makan selama masa operasional haji.

Ditjen PE2HU Kemenhaj menyepakati komitmen bersama dengan berbagai pihak untuk mengupayakan pemanfaatan beras nasional.

Pihak Perum Bulog sendiri akan menghitung kebutuhan total beras serta menyiapkan pasokan sesuai standar kualitas yang ditetapkan, termasuk beras premium dengan tingkat pecahan maksimal 5 persen. Sementara itu, Kementerian Pertanian akan memberikan dukungan dari sisi regulasi guna memperlancar proses ekspor beras.

Rapat juga membahas aspek regulasi ekspor, mekanisme perizinan, serta tantangan daya saing harga beras Indonesia di pasar Arab Saudi. Saat ini, harga beras premium dari sejumlah negara pesaing masih berada di bawah harga beras Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dan fasilitasi kebijakan agar produk nasional dapat bersaing dan diterima di pasar konsumsi haji.

Jaenal menambahkan kondisi swasembada beras saat ini merupakan momentum emas. Selama ini, tantangan utama penggunaan beras lokal adalah faktor harga. Namun, dengan penguatan ekosistem ekonomi haji, pemerintah optimistis produk nasional dapat memiliki daya saing yang kuat.

"Melalui sinergi ini, kami menjembatani agar perputaran ekonomi haji yang nilainya sangat besar dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan produsen di tanah air," jelas Direktur Fasilitasi Kemitraan PE2HU, Tri Hidayatno.

Dengan perencanaan yang dimulai sejak dini, Ditjen PE2HU optimis bahwa pada musim haji mendatang, jemaah haji Indonesia dapat menikmati nasi dari beras produksi petani Indonesia sendiri, yang sekaligus akan memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi nasional.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI