Cegah Kekerasan di Sekolah, Legislator Minta Evaluasi Sistem Pembelajaran

Laporan: Galuh Ratnatika
Selasa, 20 Januari 2026 | 11:22 WIB
Ilustrasi. Rapat Paripurna DPR RI. (Ashar/SinPo.id)
Ilustrasi. Rapat Paripurna DPR RI. (Ashar/SinPo.id)

SinPo.id - Anggota DPR RI, Meity Rahmatia, menekankan perlunya evaluasi sistem pembelajaran di sekolah untuk mencegah kekerasan dan menciptakan atmosfer yang nyaman, damai, dan aman di dunia pendidikan.

Hal itu ia sampaikan merespons kasus kekerasan yang melibatkan guru dan murid di Jambi baru-baru ini, dimana seorang guru dikeroyok oleh siswanya.

“Transformasi keilmuan ini tidak hanya dalam bentuk angka-angka ketika di dalam kelas, tetapi juga dalam bentuk pemikiran dan perilaku sosial di luar kelas,” kata Meity, dalam keterangan persnya, dikutip Selasa, 20 Januari 2026.

Menurutnya, kasus kekerasa tersebut merupakan potret gagalnya sistem pembelajaran dalam pembentukan karakter peserta didik. Sehingga sistem pembelajaran perlu didesain untuk pembentukan karakter dan kepribadian mulia.

“Apapun alasannya, tindakan kekerasan tidak dibenarkan dalam lingkungan sekolah. Apalagi murid bertindak seperti hakim jalanan yang kehilangan nalar sebagai peserta didik," ungkapnya.

"Sistem pengendalian sosial melalui aturan, norma, dan etika tidak bekerja dengan baik. Itu berarti gagal menjalankan fungsionalisme struktural di dunia pendidikan yang mengedepankan harmoni dan keteraturan,” kata Meity menambahkan.

Selain itu, apabila sistem pembelajaran berfungsi dengan baik, maka kepribadian pendidik yang ideal dalam relasi sosial juga akan terbentuk menyesuaikan dengan lingkungan pendidikan.

“Tujuan pendidikan nasional dan sistem pembelajaran di sekolah sudah dimuat tegas dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan lebih jelas diatur dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional. Tidak hanya aspek keilmuan, tetapi juga pembentukan karakter yang berketuhanan dan berakhlak mulia,” tuturnya.

Oleh sebab itu, pihaknya berharap sistem pembelajaran di sekolah kembali dievaluasi secara baik, berkesinambungan, dan berkelanjutan. Hal itu sangat diperlukan karena tantangan dunia pendidikan semakin kompleks di era digital.

“Tantangannya kian besar. Pembentukan karakter di sekolah sepertinya tidak dapat mengimbangi pengaruh sosial yang berlangsung melalui platform media daring," kata Meity.

"Dalam banyak kasus kekerasan, pelaku sering terinspirasi dari apa yang mereka saksikan secara intensif di media daring. Karena itu, kasus-kasus kekerasan yang melibatkan guru dan murid ini tidak menutup kemungkinan kembali berulang,” imbuhnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI