Trump Kaitkan Ambisi Greenland-Nobel Peace Prize, Ketegangan dengan Eropa Meningkat

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 20 Januari 2026 | 06:49 WIB
Greenland (BBC)
Greenland (BBC)

SinPo.id -  Presiden AS Donald Trump dikabarkan mengaitkan ambisinya terhadap Greenland dengan keputusan Norwegia tahun lalu yang tidak menganugerahkan Nobel Peace Prize kepadanya. Trump menyatakan kepada Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre bahwa ia tidak lagi merasa “wajib memikirkan perdamaian semata,” menurut dua pejabat Eropa, Senin 20 Januari 2026

Pernyataan Trump muncul bersamaan dengan pengumuman tarif impor 10% mulai Februari terhadap delapan negara yang mendukung Denmark dan Greenland, termasuk Norwegia. Langkah ini memicu protes di Eropa, namun Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menekankan pentingnya dialog untuk meredakan ketegangan.

Trump dalam pesannya kepada Støre menyebut, “Dunia tidak aman kecuali kita memiliki kendali penuh atas Greenland,” sekaligus menyatakan bahwa penolakan Nobel Peace Prize memengaruhi sikapnya. Pesan ini telah diteruskan ke beberapa duta besar Eropa di Washington.

Di sisi lain, pemerintah Greenland menegaskan keteguhan mereka: “Kami tidak akan dipaksa,” tulis Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen melalui Facebook. Menteri bisnis dan energi Greenland, Naaja Nathanielsen, menambahkan respons cepat negara-negara Eropa menunjukkan bahwa “ini bukan hanya soal Greenland, tapi potensi preseden global.”

Scott Bessent, Sekretaris Keuangan AS, membela kebijakan Trump, menekankan Greenland sebagai aset strategis Amerika Serikat dan menolak gagasan bahwa langkah ini hanya terkait Nobel.

Norwegia menegaskan dukungannya terhadap kedaulatan Greenland sebagai bagian dari Kerajaan Denmark, sementara Nobel Committee, lembaga independen, tetap menjadi otoritas yang memutuskan penerima hadiah perdamaian.

Ketegangan meningkat menjelang KTT NATO di Brussel, di mana pejabat Denmark dan Greenland akan bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte. Starmer menegaskan perang dagang “tidak menguntungkan siapa pun” dan mendorong solusi pragmatis tanpa mengorbankan prinsip.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI