Legislator Pertanyakan Visi Besar InJourney Jadikan Indonesia Hub Pariwisata Global

Laporan: Galuh Ratnatika
Senin, 19 Januari 2026 | 09:38 WIB
Ilustrasi Bandara (SinPo.id/InJourney)
Ilustrasi Bandara (SinPo.id/InJourney)

SinPo.id - Anggota DPR RI Novita Hardini, mempertanyakan visi jangka panjang InJourney dalam memposisikan Indonesia sebagai hub global pariwisata, sebagaimana yang telah berhasil dilakukan oleh Singapura dan Abu Dhabi.

“Singapura dan Abu Dhabi membangun hub pariwisatanya dengan visi jangka panjang yang konsisten, lintas sektor, dan terintegrasi. Pertanyaannya, visi besar InJourney ke depan itu apa?" Tanya Novita saat berkunjung ke PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), dikutip Senin, 19 Januari 2026.

"Bagaimana Indonesia bisa menjadi hub global dimasa depan, mengingat posisi Indonesia sangat strategis. Indonesia berada dijalur perdagangan dunia. Penghubung Asia-Pasifik dan Asia-Australia. Maka, jika di kelolah serius seharusnya Indonesia lebih unggul daripada Singapura dan Abu Dhabi," imbuhnya.

Menurutnya, keinginan menjadikan Indonesia sebagai pusat pariwisata global masih jauh terlihat dari kesenjangan konektivitas yang belum ditangani secara serius, mengingat ekosistem pariwisata belum dipandang sebagai satu kesatuan utuh, dan masih terpecah-pecah.

Salah satu contoh konkret adalah transportasi bandara. Pasalnya, kereta bandara yang ada saat ini belum ramah bagi wisatawan asing lantaran minim informasi multibahasa, dan belum terintegrasi optimal dengan moda transportasi publik seperti TransJakarta maupun sistem transportasi perkotaan lainnya.

“Bagi wisatawan asing, pengalaman pertama mereka tentang Indonesia itu dimulai dari bandara. Kalau dari bandara saja sudah membingungkan, kita kehilangan nilai jual sebagai destinasi global,” ungkapnya.

Ia pun memimta InJourney untuk bisa memanfaatkan potensi destinasi wisata di sekitar bandara agar Jakarta dapat menjadi destinasi transit yang menarik. Salah satunya dengan menkoneksikan bandara dengan factory outlet, pusat hiburan, dan wahana wisata tematik.

“Kalau transit 5–6 jam saja sudah bisa belanja, menikmati atraksi wisata, dan merasakan pengalaman Indonesia, maka perputaran nilai ekonominya akan jauh lebih besar,” jelasnya.

Novita bahkan membandingkannya dengan Bangkok, dimana Svarnabhumi Airport menuju Factory Outlet hanya sekitar 5- 10 menit saja.

Sedangkan di Jakarta perlu menempuh 1- 2 jam menuju Factory Outlet atau atraksi wisata lainnya.

Bahkan pihaknya menilai konektivitas bandara dengan destinasi wisata daerah yang dinilai belum optimal, seperti Yogyakarta dan destinasi unggulan lainnya yang saat ini masih menghadapi persoalan serupa seperti minim integrasi antara bandara.

“Bandara seharusnya bukan hanya tempat datang dan pergi. In journey harus mampu membangun kolaborasi dengan maskapai global untuk dapat menjadikan Indonesia tempat tujuan dan destinasi transit dunia," tegasnya.

"In-Journey perlu mengkoreksi bentuk Investasi yang diperlukan. Bukan hanya berupa fisik. Namun juga layanan, dan perkuat jaringan kolaborasi global dengan maskapai terkemuka yang sering dipakai wisatawan asing. In journey juga perlu melakukan investasi teknologi.” kata Novita menambahkan.

Selain itu, ia juga meminta BUMN tersebut untul lebih serius untuk membangun konsep Smart Airport dan Smart Logistic sebagai tulang punggung pariwisata modern. Karena negara-negara yang sukses menjadi hub global telah menjadikan digitalisasi bandara, manajemen logistik, dan integrasi data sebagai keunggulan kompetitif.

“Kalau kita bicara hub global, maka smart airport dan smart logistic bukan pilihan, tapi keharusan. Tanpa investasi teknologi dan peningkatan kolaborasi dengan jejaring superhub global, kita akan selalu tertinggal,” tuturnya.

Terakhir, kata Novita, DPR RI akan terus mendorong InJourney untuk keluar dari pendekatan sektoral dan mulai membangun visi besar yang terintegrasi, lintas moda, lintas destinasi, dan berorientasi global.

“Indonesia punya modal budaya, alam, dan posisi strategis yang luar biasa. Namun, tanpa visi jangka panjang terkait deregulasi sektor penerbangan dan logistik dan konektivitas antar moda dengan destinasi wisata yang menarik, potensi itu akan terus terbuang,” tandasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI