Teheran di Tengah Bayang-Bayang: Protes Iran, Tekanan Asing, dan Dilema Rezim
SinPo.id - Enam hari berada di ibu kota Iran memperlihatkan kontras tajam antara narasi media internasional, propaganda lokal, dan realitas di jalanan. Meski laporan dari kelompok HAM menyebut ribuan korban jiwa dalam gelombang protes, suasana Teheran tampak relatif tenang, dengan lalu lintas padat dan toko-toko perlahan kembali buka.
Sejak akhir Desember, Iran diguncang demonstrasi terbesar sejak Revolusi 1979. Awalnya dipicu oleh krisis ekonomi, inflasi tinggi, dan jatuhnya nilai rial, protes berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim. Namun, asosiasi gerakan dengan dukungan asing — terutama AS dan Israel — membuat sebagian pemuda kehilangan kepercayaan, khawatir tuntutan mereka dimanfaatkan untuk agenda geopolitik.
Pemerintah Iran merespons dengan menggelar aksi tandingan di Lapangan Revolusi, menampilkan ribuan pendukung yang bersemangat. Sebuah mobil pemadam kebakaran yang diklaim dibakar massa dipamerkan sebagai simbol kerusakan akibat demonstrasi. Di malam hari, aparat bersenjata terlihat berjaga, menggunakan peluru karet dan paintball untuk mengendalikan kerumunan.
Di balik layar, ketegangan internasional meningkat. Israel dilaporkan meminta Washington menunda serangan terhadap Iran, khawatir protes belum cukup melemahkan rezim. Arab Saudi dan Qatar juga mendesak agar langkah militer ditahan demi mencegah destabilisasi regional. CNN mengutip pejabat Israel yang mengkhawatirkan sistem pertahanan rudal mereka sudah “terlalu terbebani” setelah konflik Juni 2025.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump tetap membuka opsi intervensi militer, dengan dalih “menyelamatkan rakyat Iran” jika aparat menewaskan demonstran. HRANA menyebut korban tewas melampaui 3.000 orang, sementara pejabat Iran mengklaim angka mencapai 5.000, termasuk 500 aparat keamanan.
Rezim Iran kini berada di persimpangan jalan: mempertahankan program keamanan dan nuklir yang memicu sanksi internasional, atau melonggarkan ambisi demi meringankan beban rakyat. Namun, pilihan apa pun berisiko besar — baik terhadap stabilitas domestik maupun ancaman eksternal dari AS dan Israel.
Sebagian tulisan ini adalah pengalaman dari Obaidullah Baheer, dosen di American University of Afghanistan
