Home /

Wamenhaj: Petugas Haji Perempuan 2026 Capai 33,2 Persen, Lampaui Target Kuota

Laporan: Tio Pirnando
Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:58 WIB
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak (SinPo.id/Dok. Kemenhaj)
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak (SinPo.id/Dok. Kemenhaj)

SinPo.id - Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan, jumlah perempuan sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tahun 2026, telah melampaui target kuota sebesar 30 persen. Hal ini sangat mengembirakan, karena mereka akan melayani jemaah perempuan yang jumlahnya mendominasi di penyelenggaraan haji 2026. 

"Nah, ini catatan saya ya. Petugas perempuan di tahun ini itu sampai 33,2 persen. Jadi target kami itu tadinya 30 persen petugas perempuan, tapi ternyata lebih. 33,2 persen petugas haji hari ini, itu adalah perempuan," kata Dahnil di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu, 17 Januari 2026.

Dahnil menilai, dengan mayoritas jemaah asal Indonesia adalah perempuan, tentu menuntut pendekatan pelayanan yang lebih sensitif, nyaman, sesuai dengan ketentuan syariat, khususnya pada urusan-urusan yang bersifat personal.

"Dan ini memang kebijakan Pak Menteri (Menhaj Gus Irfan) bahwasannya kita ingin afirmasi terhadap perempuan karena janah haji kita sebagian besar itu perempuan," ujarnya. 

Mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah ini menerangkan, dari hasil evaluasi penyelenggaraan haji tahun-tahun sebelumnya, banyak keluhan jemaah perempuan yang merasa kurang leluasa ketika harus berkonsultasi soal ibadah atau kesehatan dengan petugas laki-laki. Dengan adanya petugas haji perempuan, persoalan tersebut dapat terjawab. 

"Para ibu-ibu akan lebih nyaman ketika berkomunikasi dengan perempuan, petugas perempuan. Misalnya konsultasi ibadah. Kan idealnya mereka bicara dengan petugas perempuan. Sehingga pendekatannya bisa lebih personal. Makanya kami ingin membangun hubungan emosional antara petugas dengan jemaah," ujarnya. 

Selain itu, para petugas haji juga dididik dan dibekali untuk selalu mengedepankan sikap empati dalam pelayanan. Misalnya, terhadap jemaah lansia, harus dilayani layaknya orang tua sendiri.

Dengan keberadaan petugas haji perempuan itu akan memberi sentuhan keibuan yang lebih kuat bagi jemaah wanita yang sedang berada jauh dari keluarga.

Selain itu, lanjut Dahnil, kebijakan ini juga memberi ketenangan bagi keluarga jemaah di Tanah Air. Mereka  lebih tenang melepas anggota keluarganya menunaikan ibadah haji.

"Jadi supaya keluarga yang ditinggalkan itu merasa nyaman dan aman. Kenapa? Karena keluarga mereka, apalagi yang lansia, itu di tangan para petugas-petugas yang punya watak empati dan simpati. Jadi seperti orang tua kita sendiri," tandasnya. 

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI