Pilkada Melalui DPRD Ditolak Masyarakat, Golkar: Karena Bayangan Orde Baru

Laporan: Juven Martua Sitompul
Kamis, 08 Januari 2026 | 20:27 WIB
Sekjen Partai Golkar Sarmuji (SinPo.id/Antara)
Sekjen Partai Golkar Sarmuji (SinPo.id/Antara)

SinPo.id - Sekjen Partai Golkar Sarmuji merespons hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA terkait penolakan mayoritas responden terhadap usulan Pilkada melalui DPRD.

Sarmuji menilai bila hasil survei itu tidak lepas kekhawatiran masyarakat pada desain pilkada saat era Orde Baru. Apalagi, saat itu keterlibatan publik sangat minim.

"Mungkin yang dibayangkan publik adalah desain pilkada model Orde Baru di mana keterlibatan publik hampir nihil," kata Sarmuji kepada wartawan, Kamis, 8 Januari 2026.

Sarmuji berkeyakinan desain pilkada akan diubah dengan memaksimalkan keterlibatan masyarakat. Menurutnya, pilkada melalui DPRD tak serta-merta menghilangkan partisipasi publik.

"Kalaupun nanti ada perubahan desain pilkada, kita akan melibatkan semaksimal mungkin partisipasi publik dalam pilkada tidak langsung," ujarnya.

Ketua Fraksi Golkar DPR ini menilai keterlibatan rakyat tetap dapat dijamin meski pilkada dilakukan melalui DPRD. Sarmuji mengatakan publik dapat dilibatkan sejak proses penjaringan calon kepala daerah.

"Rakyat bisa terlibat dalam proses penjaringan calon. Publik bisa berinteraksi langsung dengan kandidat melalui kampanye langsung, bisa didesain melalui tatap muka langsung, platform media sosial atau media lainnya. Yang penting publik bisa mengetahui bagaimana isi pikiran kandidat," ucapnya dia.

"Demikian juga debat kandidat bisa tetap dilakukan. Dengan demikian publik akan menilai kualitas calon. Jika DPRD memilih calon yang tidak berkualitas dia akan dihukum rakyat di pemilu selanjutnya," timpal Sarmuji.

LSI Denny JA sebelumnya merilis hasil survei terkait usulan pilkada melalui DPRD. Dalam survei ini disebutkan mayoritas responden tidak setuju dengan pilkada melalui DPRD, yang paling keras menolak adalah Gen Z.

Responden diberi pertanyaan 'Apakah Ibu/Bapak setuju atau tidak setuju wacana Pilkada tidak langsung atau dipilih oleh DPRD'. Hasilnya 66,1 persen menyatakan kurang setuju/tidak setuju sama sekali.

Rinciannya, kurang setuju/tidak setuju sama sekali memperoleh 66,1 persen responden. Lalu, sangat setuju/cukup setuju sebesar 28,6 persen, dan tidak tahu/tidak 5,3 persen.

"Jadi dari data ini kita lihat bahwa di atas 65 persen menolak pilkada DPRD," kata Ardian Sopa saat merilis hasil survei di Jakarta.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI