Home /

BRIN Tekankan Budaya Saling Percaya untuk Perkuat Riset Strategis

Laporan: Sigit Nuryadin
Rabu, 07 Januari 2026 | 23:26 WIB
Kepala BRIN Arif Satria (SinPo.id/ Setpres)
Kepala BRIN Arif Satria (SinPo.id/ Setpres)

SinPo.id - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan penguatan riset strategis nasional harus ditopang oleh budaya kerja yang saling percaya dan kolaboratif. 

Menurut dia, kepercayaan menjadi fondasi utama agar periset dapat bekerja secara optimal dan menghasilkan inovasi yang berdampak.

“Kepercayaan adalah modal utama dalam riset dan inovasi. Lingkungan kerja yang aman dan saling percaya akan mendorong produktivitas serta kualitas karya riset,” kata Arif dalam keterangannya, Rabu, 7 Januari 2026.

Arif mengatakan BRIN terus mendorong tata kelola riset yang adaptif terhadap aspirasi para periset. Namun, dia menegaskan pengelolaan tersebut tetap harus selaras dengan target kinerja, kapasitas organisasi, serta regulasi negara.

Menurut Arif, keseimbangan antara kebebasan akademik dan tata kelola yang akuntabel diperlukan agar hasil riset mampu menjawab kebutuhan pembangunan nasional. 

Dia menilai riset tidak hanya dituntut menghasilkan publikasi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Arif juga menyinggung pentingnya etos kerja dalam membangun ekosistem riset yang kuat. Ia mencontohkan budaya kerja di Jepang yang menekankan semangat, tanggung jawab, dan dedikasi dalam bekerja.

“Etos akan melahirkan semangat kerja tinggi dan rasa tanggung jawab yang besar. Saya berharap pegawai BRIN meneladani hal tersebut. Bekerja bukan karena uang semata, tetapi karena panggilan jiwa,” tuturnya. 

Selain etos kerja, Arif menilai kebahagiaan menjadi modal penting dalam menjalani pekerjaan di bidang riset. Menurut dia, kebahagiaan tidak terlepas dari dukungan keluarga, lingkungan pertemanan, dan pekerjaan yang bermakna.

“Kebahagiaan dapat tercapai dengan dukungan keluarga yang baik, teman yang baik, dan pekerjaan yang baik,” kata Arif. 

Arif menambahkan, kerja yang dijalani dengan jiwa dan semangat akan menciptakan makna hidup sekaligus mendorong produktivitas. Dia menegaskan usia bukan ditentukan oleh angka, melainkan oleh semangat untuk terus berpikir ke depan.

“Orientasi kita harus ke masa depan, bukan masa lalu,” tandasnya. 

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI