Klaim “Cartel de los Soles” Dipatahkan di Pengadilan, Alasan Utama Trump Gulingkan Maduro Mulai Runtuh

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 07 Januari 2026 | 07:49 WIB
Presiden AS Donald Trump membagikan sebuah foto yang diduga Presiden Nicolas Maduro. Trump menyampaikan Maduro sedang dibawa ke AS. (SinPo.id/Istimewa)
Presiden AS Donald Trump membagikan sebuah foto yang diduga Presiden Nicolas Maduro. Trump menyampaikan Maduro sedang dibawa ke AS. (SinPo.id/Istimewa)

SinPo.id -  Salah satu klaim utama yang digunakan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membenarkan penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro kini mulai runtuh di pengadilan. Departemen Kehakiman AS (DOJ) secara efektif mundur dari tudingan bahwa Maduro memimpin organisasi narkoterorisme internasional bernama Cartel de los Soles, tuduhan yang selama ini menjadi dasar narasi bahwa pemerintahannya “tidak sah”.

Perubahan sikap itu muncul setelah Maduro dibawa secara paksa oleh militer AS pekan lalu dan kini menjalani proses hukum di Pengadilan Distrik Selatan New York. Dalam sidang perdana, Maduro menyatakan tidak bersalah, sehingga jaksa dituntut membuktikan seluruh dakwaan secara hukum.

Selama lebih dari setahun, pemerintahan Trump menyebut Cartel de los Soles sebagai organisasi narkoterorisme lintas negara, bahkan Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri AS sempat menetapkannya sebagai organisasi teroris asing menjelang invasi ilegal AS ke Venezuela. Tuduhan tersebut berakar dari dakwaan dewan juri tahun 2020 terhadap Maduro, yang disusun DOJ pada masa jabatan pertama Trump.

Dalam dakwaan lama itu, Cartel de los Soles digambarkan sebagai “organisasi perdagangan narkoba Venezuela yang terdiri dari pejabat tinggi negara”. Namun, para ahli kejahatan dan narkotika Amerika Latin sejak lama membantah keberadaan organisasi tersebut.

Seperti dijelaskan The New York Times pada November lalu, Cartel de los Soles bukanlah organisasi nyata, melainkan istilah kiasan yang sudah digunakan sejak 1990-an untuk menyebut oknum militer Venezuela yang terlibat korupsi narkoba. Istilah ini merujuk pada simbol matahari yang dikenakan para jenderal Venezuela sebagai tanda pangkat.

Fakta tersebut juga tercermin dalam laporan resmi. Badan Pemberantasan Narkoba AS (DEA) tidak pernah mencantumkan Cartel de los Soles dalam National Drug Threat Assessment, begitu pula laporan tahunan World Drug Report milik Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC).

Meski demikian, klaim bahwa Maduro memimpin kartel narkoteror internasional menjadi senjata politik utama pemerintahan Trump untuk mendapatkan dukungan atas agresi terhadap Venezuela. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan menyatakan di media sosial pada Juli lalu bahwa Maduro adalah “kepala Cartel de los Soles” dan bukan presiden sah Venezuela.

Namun, setelah Maduro dibawa ke AS, DOJ merilis dakwaan baru yang secara signifikan mengubah narasi. Meski tetap menuduh Maduro terlibat konspirasi perdagangan narkoba, jaksa sama sekali menghapus klaim bahwa Cartel de los Soles merupakan organisasi kriminal yang nyata. Dakwaan terbaru menyebutnya hanya sebagai “budaya korupsi” dan sistem patronase di kalangan elite Venezuela, bukan kartel terstruktur.

Elizabeth Dickinson, Wakil Direktur International Crisis Group untuk Amerika Latin, menilai penetapan Cartel de los Soles sebagai organisasi teroris “jauh dari kenyataan”. Menurutnya, penetapan semacam itu tidak perlu dibuktikan di pengadilan, berbeda dengan dakwaan pidana yang kini harus diuji secara hukum.

Meski dakwaan baru melemahkan klaim lama, Marco Rubio tetap bersikukuh. Dalam wawancara di program Meet the Press NBC, ia masih menyebut Cartel de los Soles sebagai organisasi kriminal transnasional dan menyatakan Maduro sebagai pemimpinnya.

Sejumlah analis menilai langkah DOJ ini sebagai pengakuan tidak langsung bahwa narasi lama tidak dapat dipertahankan di pengadilan. Peneliti politik AS Derek Davison menyebut pemerintah “berpura-pura selama setahun bahwa sesuatu yang dibuat-buat itu nyata, lalu menguburnya begitu harus dibuktikan di hadapan hakim”.

Sementara itu, Ben Norton dari Geopolitical Economy Report menilai runtuhnya klaim Cartel de los Solesmenunjukkan bahwa agresi AS terhadap Venezuela dibangun di atas kebohongan. Ia menegaskan bahwa peran Venezuela dalam perdagangan kokain global relatif kecil dan tidak berkaitan dengan krisis fentanyl di AS.

Norton juga mengutip pernyataan terbaru Trump yang secara terbuka menyebut tujuan utama kebijakan AS adalah menguasai cadangan minyak besar Venezuela dan menyerahkannya kepada perusahaan-perusahaan berbasis di Amerika Serikat.

“Ini tidak pernah soal narkoba. Klaim Cartel de los Soles hanyalah versi baru kebohongan senjata pemusnah massal yang dulu dipakai untuk membenarkan invasi Irak,” kata Norton.

Kini, dengan Maduro menjalani proses hukum dan dakwaan utama mulai berubah, narasi besar yang selama ini digunakan pemerintahan Trump untuk menggulingkan pemerintah Venezuela kian dipertanyakan legitimasinya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI