Starmer Minta Hukum Internasional Dihormati usai Trump Klaim Tangkap Maduro, Inggris Tegaskan Tak Terlibat Operasi
SinPo.id - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyerukan agar seluruh negara menjunjung tinggi hukum internasionalmenyusul pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam sebuah serangan berskala besar.
Starmer menyebut situasi tersebut sebagai “sangat cepat berubah” dan menegaskan bahwa Inggris tidak terlibat sama sekali dalam operasi militer Amerika Serikat di Venezuela. Ia meminta semua pihak bersabar sembari menunggu kejelasan fakta di lapangan.
“Saya ingin berbicara dengan Presiden Trump, saya ingin berbicara dengan para sekutu. Saya bisa menyampaikan dengan sangat jelas bahwa kami tidak terlibat dalam hal ini. Dan seperti yang selalu saya katakan, kita semua harus menjunjung hukum internasional,” kata Starmer dalam pernyataan singkat yang disiarkan televisi Inggris, Sabtu.
Starmer menambahkan, informasi lebih rinci diharapkan muncul setelah Trump menggelar konferensi pers pada hari yang sama. Pemerintah Inggris sendiri hingga kini belum mengakui hasil pemilu Venezuela 2024 yang kembali mengantarkan Maduro ke kursi presiden untuk masa jabatan ketiga, dan sebelumnya mendorong transisi kekuasaan secara damai dan melalui negosiasi.
Pasca peristiwa tersebut, fokus utama pemerintah Inggris adalah keamanan sekitar 500 warga negara Inggris yang diperkirakan berada di Venezuela.
“Kami bekerja sama dengan Kedutaan Besar Inggris untuk memastikan mereka terlindungi, aman, dan mendapatkan arahan yang tepat,” ujar Starmer.
Kantor Luar Negeri Inggris juga memperbarui peringatan perjalanan dengan melarang seluruh perjalanan ke Venezuela. Pemerintah Caracas dilaporkan menetapkan “status darurat eksternal” menyusul serangan udara di berbagai wilayah, yang berpotensi menyebabkan penutupan perbatasan dan wilayah udara.
Langkah Amerika Serikat memicu reaksi keras di Inggris. Pemimpin Reform UK Nigel Farage, sekutu lama Trump, menyebut operasi tersebut “tidak lazim dan bertentangan dengan hukum internasional”, meski berharap dampaknya dapat membuat China dan Rusia berpikir ulang.
Sebaliknya, pemimpin Partai Demokrat Liberal Ed Davey mendesak Starmer untuk mengecam tindakan ilegal Trump, seraya menilai serangan semacam itu justru membuat dunia semakin tidak aman.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana besar untuk mengambil alih dan membenahi sektor minyak Venezuela. Dalam konferensi pers di Florida, Trump menyatakan perusahaan minyak raksasa AS akan menggelontorkan miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur energi Venezuela yang ia sebut “rusak parah”.
“Kami akan mengerahkan perusahaan minyak terbesar Amerika untuk memperbaiki infrastruktur minyak dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” kata Trump, didampingi pejabat tinggi kabinet termasuk Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri.
Trump menegaskan biaya tersebut tidak akan membebani AS karena akan diganti melalui hasil minyak. Ia juga menyatakan Amerika Serikat akan menjual minyak Venezuela ke negara lain sebagai bentuk balasan atas apa yang ia klaim sebagai penyitaan aset minyak AS oleh rezim sosialis Venezuela.
Trump menyebut operasi militer tersebut, yang diberi nama “Operation Armour Shield”, berhasil menangkap Maduro dan istrinya Cilia Flores, yang kini dibawa ke AS untuk diadili atas sejumlah tuduhan, termasuk perdagangan narkotika. Pemerintahan Trump menuding Maduro sebagai pimpinan kartel narkoba Cártel de los Soles.
Venezuela sendiri diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 300 miliar barel, atau sekitar 20 persen dari total cadangan global—faktor yang membuat krisis politik dan militer terbaru ini berpotensi mengguncang geopolitik dan pasar energi dunia.
