Kementerian Kebudayaan Gelar Wicara Sejarah, Tegaskan Keindonesiaan di Tengah Arus Global

Laporan: Tim Redaksi
Minggu, 04 Januari 2026 | 01:00 WIB
Gelar Wicara Sejarah
Gelar Wicara Sejarah

SinPo.id -  Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Sejarah dan Permuseuman menyelenggarakan Gelar Wicara Sejarahbertajuk “Menegaskan Keindonesiaan di Tengah Arus Global: Penguatan Literasi dan Refleksi Sejarah” di Gedung A, Kompleks Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan literasi sejarah sekaligus pemantapan narasi kebangsaan di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Gelar Wicara Sejarah ini menjadi ruang dialog intelektual yang mempertemukan sejarawan, akademisi, peneliti, pendidik, serta komunitas budaya untuk merefleksikan perjalanan sejarah Indonesia dan membahas arah historiografi nasional ke depan.

Momentum kegiatan ini juga berkaitan dengan terbitnya buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global, yang diluncurkan Kementerian Kebudayaan bertepatan dengan Peringatan Hari Sejarah, 14 Desember 2025. Buku tersebut menjadi pijakan penting dalam membaca kembali posisi Indonesia dalam konstelasi sejarah dunia sekaligus menegaskan identitas kebangsaan di tengah arus globalisasi.

Selain itu, Gelar Wicara Sejarah juga menjadi bentuk penghormatan intelektual atas perjalanan panjang historiografi Indonesia serta apresiasi terhadap dedikasi Prof. Dr. Taufik Abdullah yang telah memberikan kontribusi besar bagi pengembangan ilmu sejarah nasional selama puluhan tahun.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menegaskan pentingnya membangun budaya penulisan sejarah nasional secara lebih serius dan berkelanjutan. Ia menyoroti masih minimnya tradisi dokumentasi sejarah oleh bangsa Indonesia sendiri, meskipun sejak ratusan tahun lalu Indonesia banyak ditulis oleh pihak asing.

“Sejarah sering kita katakan penting, tetapi sering kali tidak kita tulis. Padahal bangsa lain menulis banyak hal tentang Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Karena itu, kita perlu menuliskan sejarah kita sendiri agar menjadi milik dan rujukan bagi generasi kita,” ujar Fadli Zon.

Ia menambahkan, buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global disusun oleh para sejarawan Indonesia berdasarkan keahlian akademik, bukan sebagai narasi resmi pemerintah. Buku tersebut diharapkan menjadi ruang diskursus terbuka yang terus berkembang melalui perdebatan dan temuan baru.

“Buku sejarah ini tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang final. Justru perdebatan, dialektika, dan forum-forum ilmiah sangat penting agar penulisan sejarah kita terus hidup dan berkembang,” lanjutnya.

Lebih jauh, Fadli Zon menekankan bahwa penulisan sejarah nasional perlu dilanjutkan secara komprehensif, mencakup sejarah Perang Mempertahankan Kemerdekaan 1945–1949, sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, hingga sejarah ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan lingkungan yang selama ini belum banyak mendapat perhatian.

“Pada prinsipnya, tidak ada bangsa yang bisa terpisah dari masa lalu. Untuk memahami Indonesia hari ini dan merancang masa depan, kita harus memahami perjalanan sejarahnya,” tegasnya.

Gelar Wicara Sejarah diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari lembaga riset, akademisi, peneliti, guru sejarah, budayawan, hingga penggerak komunitas sejarah dan pelestari cagar budaya.

Diskusi utama membahas dua fokus, yakni dinamika kebangsaan Indonesia dalam arus global dari perspektif sejarah, serta refleksi kritis atas perkembangan historiografi Indonesia selama sembilan dekade terakhir. Diskusi ini dimoderatori oleh Lamijo, Peneliti Ahli Madya BRIN, dengan narasumber antara lain Ninie Susanti, Agus Suwignyo, Siti Zuhro, serta Arif Nur Ridwan.

Sejumlah tokoh turut hadir, termasuk Kepala Arsip Nasional RI Mego Pinandito, pejabat BRIN, para editor buku sejarah, sejarawan, serta jajaran pimpinan Kementerian Kebudayaan yang mendampingi Menteri Kebudayaan.

Melalui kegiatan ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus mendorong literasi sejarah yang kontekstual, kritis, dan relevan dengan tantangan zaman. Sejarah dipandang tidak sekadar sebagai catatan masa lalu, melainkan sebagai sumber refleksi kolektif untuk memperkuat identitas, karakter, dan daya tahan bangsa dalam menghadapi perubahan global.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI