Indonesia Resmi Jadi Anggota Penuh BRICS hingga Kematian Misterius Diplomat Muda
Juli 2025 diwarnai dengan masuknya Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS yang disahkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-17 di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu 6 Juli 2025. Selain itu, di dalam negeri publik digegerkan dengan kematian Diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Arya Daru Pangayunan yang ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya kawasan Menteng, Jakarta pusat, Selasa 8 Juli 2025 lalu.
Indonesia Resmi Jadi Anggota Penuh BRICS
SinPo.id - Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS yang disahkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-17 di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu 6 Juli 2025. Bergabungnya Indonesia yang langsung dihadiri Presiden Prabowo itu menjadi momen bersejarah. BRICS merupakan akronim Brazil, Russia, India, China, South Africa, sebagai organisasi antar pemerintah terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Iran, Mesir, Etiopia, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Lembaga itu awalnya dibentuk untuk menyoroti peluang investasi, namun berkembang menjadi sebuah blok geopolitik dengan pemerintah mereka bertemu setiap tahunnya dalam sebuah KTT formal dan mengoordinasikan kebijakan multilateral sejak 2009.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, keikutsertaan Indonesia dalam forum BRICS merupakan hasil dari inisiasi langsung Presiden Prabowo di tahun pertamanya menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
“Masuknya Indonesia dalam keanggotaan BRICS merupakan inisiasi langsung dari Presiden Prabowo di tahun pertamanya menjadi Presiden Republik Indonesia. Indonesia pun diterima dengan cepat menjadi anggota ke-11 BRICS,” ujar Teddy, dalam keterangan tertulis.
Dengan keanggotaan yang kini terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Etiopia, Iran, dan Indonesia—BRICS kini merepresentasikan 50 persen populasi dunia dan mencakup 35 persen dari Produk Domestik Bruto (GDP) global.
Menurut Teddy, Presiden Prabowo memandang keikutsertaan Indonesia dalam BRICS sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional. "Presiden Prabowo optimistis dengan keikutsertaan Indonesia dalam BRICS akan memperkuat posisi Indonesia di kancah global, serta menekankan pentingnya kerja sama antarnegara melalui forum seperti BRICS untuk mendukung stabilitas dan kemakmuran dunia,” kata Teddy menjelaskan.
Sedangkan prinsip yang menjadi pijakan Presiden Prabowo dalam membangun hubungan internasional kembali ditegaskan dalam forum itu, yakni pentingnya memperluas jejaring persahabatan dan kerja sama strategis antarbangsa demi mendukung perdamaian dan kemakmuran global.
"Bergabungnya Indonesia dalam keanggotaan BRICS ini merupakan perwujudan prinsip yang selalu dipegang oleh Kepala Negara bahwa seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak," kata Teddy menitukan pernyataan presiden.
Pewaris Semangat Konferensi Asia-Afrika
Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menegaskan, BRICS sebagai pewaris semangat Konferensi Asia-Afrika yang digelar pemerintah Indonesia di Bandung pada tahun 1955.
Di hadapan para kepala negara BRICS, termasuk Presiden Prabowo, Lula menyebut BRICS sebagai manifestasi nyata dari semangat Konferensi Asia-Afrika. "BRICS adalah manifestasi dari gerakan non-blok Bandung. BRICS menghidupi semangat Bandung," kata Lula, dikutip Tim Media Presiden.
Kehadiran Presiden Prabowo tidak hanya menandai babak baru keterlibatan Indonesia dalam forum internasional, tetapi juga menjadi simbol kuat bahwa semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung masih hidup dan terus diperjuangkan dalam platform global masa kini.
Tabir Kematian Diplomat
SinPo.id - Seorang Diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Arya Daru Pangayunan ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya kawasan Menteng, Jakarta pusat, Selasa 8 Juli 2025 lalu. Kondisi jenazah Arya Daru mencurigakan, yakni kepala dililit lakban. Kasus kematian Arya Daru pun dilimpahkan ke Polda Metro Jaya. Polisi terus bekerja keras mengusut, namun hingga lebih dua pekan belum ditemukan pelaku maupun penyebab kematian seorang diplomat muda yang hendak bertugas ke luar negeri itu.
Sejumlah catatan yang dikumpulkan SinPo.id menunjukkan Arya Daru masih sempat aktivitas di kosnya. Hal itu dibuktikan dengan video CCTV yang menunjukkan pada malamsebelum ditemukan meninggal, tepatnya pukul 23.23 WIB Senin malam 7 Juli 2025, Arya terlihat masuk ke kamar. Pada pukul 23.24 WIB, ia terlihat keluar dari kamar kos dan membawa kantong keresek. Tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan Arya terlihat berjalan masuk menuju kamar kosnya kembali dengan kemeja yang terbuka seluruh kancingnya.
Rekaman itu dibenarkan oleh Kapolsek Menteng Komisaris Rezha Rahandhi. Menurut Rezha, Arya sempat menyapa penjaga kos di tempat ia tinggal. "Jadi malam hari itu dia sekitar pukul 22.00, jam sepuluhan mendekati 22.30 WIB. “Dia nyapa (penjaga kos) 'Ayo, Mas', gitu aja," kata Rezha Rahandhi.
Selanjutnya, korban masuk ke kamar dan tidak terpantau lagi dari CCTV. Menurut Rezha, mendiang Arya Daru komunikasi terakhir dengan istri pada jam 21.00 WIB senin malam lewat telepon.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi menjelaskan aktivitas yang dilakukan penjaga kos saat ini dalam rangka mengecek korban. Penjaga kos mengecek setelah istri korban meminta tolong karena handphone korban tidak dapat dihubungi.
"Benar (penjaga kos lakukan pengecekan). Istrinya minta penjaga kos ngecek karena HP suaminya mati," ujar Ade yang menyebut rekaman kamera CCTV itu bagian dari temuan untuk mengungkap kasus kemaian Arya Daru.
Kriminolog UI, Haniva Hasna mengatakan, penyebab kematian Arya Daru tak bisa disimpulkan sebagai bunuh diri atau dibunuh orang lain. Sebab temuan awal merupakan kasus yang tidak wajar dan jarang terjadi.
“Secara kriminologi, ini unnatural suicide (bunuh diri tidak wajar). Namun, secara statistik sulit dilakukan secara penuh seorang diri,” ujar Haniva, dikutip dari Kompas.com.
Haniva menyebutkan arah lakban yang menutup kepala jenazah daru bisa jadi petunjuk kunci mengungkap kematian. “Kalau (ujung lakban) dimulai dari mulut, maka ada kemungkinan korban dibungkam. Kalau (ujung lakban) terakhir di hidung, ada kemungkinan bunuh diri,” ujar Haniva menjelaskan.

