Home /
Kaleidoskop April 2025

Perang Dagang Amerika - China hingga Vatikan berduka

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 30 Desember 2025 | 12:00 WIB
Ilustrasi, Wawan Wiguna (SinPo.id)
Ilustrasi, Wawan Wiguna (SinPo.id)

April 2025 menjadi catatan penting dunia, ketika Amerika Serikat mengenakan tarif impor sebesar 145 persen kepada China. Kebijakan pada 10 April 2025 lalu dikhawatirkan berdampak bagi ekonomi dunia. Keputusan tarif impor tinggi dalam sejarah itu merupakan sikap keras Presiden AS, Donald Trump terhadap China  sebagai perang dagang atau konflik ekonomi yang melibatkan pembatasan perdagangan berupa tarif impor tinggi.

Pada bulan yang sama juga menjadi  kesedihan bagi umat Katolik di dunia ketika Paus Fransiskus diumumkan meninggal dunia. Dalam pengumumnanya, pemimpin umat dunia meninggal itu pada Senin, 21 April 2025 pagi pada pukul 07.35 waktu Roma dalam usia 88 tahun.  

Perang Dagang Amerika - China

SinPo.id Kebijakan impor Presiden Trump juga berlaku bagi Indonesia. Meski tak menimbulkan perang tarif seperti China, pemerintah Indonesia meyiapkan sejumlah langkah.

Kebijakan Amerika Serikat yang mengenakan tarif impor sebesar 145 persen kepada China pada 10 April 2025 lalu dikhawatirkan berdampak bagi ekonomi dunia. Keputusan tarif impor tinggi dalam sejarah itu merupakan sikap keras Presiden AS, Donald Trump terhadap China  sebagai perang dagang atau konflik ekonomi yang melibatkan pembatasan perdagangan berupa tarif impor tinggi.

The New York Times, menyebutkan kebijakan Trump menaikkan tarif barang dari China sebagai respon balasan terhadap Beijing yang mengeluarkan kebijakan kenaikan tarif sebelumnya.

China sendiri merupakan negara pengimpor terbesar kedua bagi AS, negara tirai bambu itu dominan sebagai produsen global untuk berbagai barang konsumsi, termasuk ponsel, mainan, komputer, dan berbagai produk rumah tangga lainnya.

“Dengan tarif setinggi ini, biaya impor produk-produk tersebut akan melonjak drastis, berdampak besar bagi distributor, pengecer, dan konsumen di Amerika,” tulis The New York Times.

Sehari usai keputusan Trump, China melawan perang tarif impor AS, mengumumkan knaikan tarif sebesar 125 persen terhadap barang-barang dari negeri paman Sam tersebut. Mengutip pemberitaan Reuters, Jumat 11 April lalu, keputusan tarif 125 persen oleh China itu sebagai balasan atas keputusan Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tarif lebih tinggi.

"Pemberlakuan tarif yang sangat tinggi oleh AS terhadap Tiongkok secara serius melanggar aturan ekonomi dan perdagangan internasional, bertentangan dengan prinsip-prinsip ekonomi dasar dan akal sehat, dan merupakan tindakan intimidasi dan pemaksaan sepihak," tulis Kementerian Keuangan China.

Dalam laporanya, Kemenkeu China mengatakan, dampak tarif tinggi AS terhadap ekonomi dunia akan menjadi bahan tertawaan dalam sejarah ekonomi.

"Bahkan jika AS terus mengenakan tarif yang lebih tinggi, tarif itu tidak akan lagi memiliki signifikansi ekonomi dan akan menjadi bahan tertawaan dalam sejarah ekonomi dunia," pernyataan itu menambahkan.

Menurut pernyataan itu, balasan kenaikan taris di atas 100 persen terhadap barang dari Amerika itu menjadi kali terakhirnya merespons Trump.

China menyatakan tak mau lagi merespons jika Trump kembali menaikkan tarif untuk barang-barang asal China yang masuk ke AS.

"Jika AS terus memainkan permainan angka dengan tarif, China tidak akan menanggapi,"  katanya.

Catatan SinPo.id yang dikutip dari BBC menyebutkan perang dagang lewat kebijakan kenaikan tarif itu berawal ketika China menerapkan tarif impor baru sejumlah barang dari AS sebanyak 34 persen. Kenaikan tarif itu sama dengan tarif AS terhadap barang-barang China sebelumnya.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan masih berharap untuk mendapatkan kesepakatan dengan Beijing  dengan hasil yang baik bagi kedua negara.

Saat itu Trump usai dilantik menjadi presiden, mengumumkan skema pajak impor dari China dikenai tarif resiprokal sebesar 34 persen. Namun Beijing membalas dengan mengenakan tarif sebesar 34 persen  terhadap barang-barang Amerika.

Kemudian AS menanggapi dengan menaikkan tarif mereka hingga total 104 persen, sehingga China menaikkan tarif mereka menjadi 84 persen. Kebijakan itu direspon kembali oleh AS hingga saat ini menetapkan tarif impor terhadap sejumlah barang China sebesar 125 persen dengan rincian barang asal China dikenai tarif awal 20 persen. Sehingga total tarif untuk barang China yang masuk ke AS menjadi 145 persen.

Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas, menilai kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak memberikan dampak signifikan bagi pangsa pasar ekspor Indonesia. Namun dikhawatirkan akan memberikan efek domino ke sejumlah negara.

“Kalau untuk bea impor ke AS sebenarnya tidak terlalu signifikan dampaknya karena volume ekspor ke Amerika Serikat relatif tidak terlalu besar," kata Merlas.

Menurut Merlas, perang tarif Trump membuat negara lain memproteksi dengn cara mengurangi pangsa pasar barang. Situasi tersebut akan membuat pelambatan ekonomi dunia. Termasuk para investor yang menahan modal mereka dan mengalihkan ke safe haven asset.

Dampak perlambatan bagi negara yang menjadikan Amerika sebagai pangsa pasar juga akan kurang membeli bahan baku. Sedangkan Indonesia adalah eksportir bahan baku terbanyak.

"Jadi kalau mereka kurang membeli bahan baku di Indonesia maka komoditas unggulan Indonesia akan turun. Ini yang berdampak pada Indonesia,” ujar Merlas menambahkan.

Ia menyarankan Indonesia harus cerdas dalam menempatkan posisi agar tak terjebak dalam perang dagang Amerika Serikat dan China. Salah satu yang harus diwaspadai adalah jika China terpaksa stop ekspor mereka ke Amerika Serikat maka dipastikan ada penurunan permintaan bahan baku dari negara tirai bambu ke Indonesia.

Pemerintah juga perlu memperbaiki iklim investasi, termasuk deregulasi karena Indonesia berpeluang menjadi tujuan investor yang keluar dari negara-negara lain seperti Vietnam, Bangladesh, hingga China.

“Ada negara-negara yang mempunyai bea impor tinggi yang bisa membuat investor lari. Mereka bisa saja lari ke Indonesia jika kita mempunyai daya tawar lebih termasuk regulasi yang mendukung,”  kata Merlas menyarankan.

Paus Fransiskus Meninggal Dunia hingga

SinPo.id - Pemimpin Umat Katolik Paus Fransiskus meninggal dunia pada Senin, 21 April 2025 pagi pada pukul 07.35 waktu Roma dalam usia 88 tahun. Hal ini diumumkan Kardinal Kevin Farrell, Kamerlengo Vatikan, dari kapel Domus Santa Marta, tempat tinggal Paus Fransiskus.

“Pukul 07.35 pagi ini, Uskup Roma, Fransiskus,  telah kembali ke rumah Bapa. Seluruh hidupnya didedikasikan untuk pelayanan kepada Tuhan dan Gereja-Nya,” kata Ferrell seperti dikutip AP.

Paus Fransiskus, yang lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio pada 17 Desember 1936 di Buenos Aires, Argentina, merupakan Paus pertama dari benua Amerika Selatan dan juga Paus pertama dari ordo Serikat Yesus (Jesuit).

Ia dipilih menjadi Paus pada 13 Maret 2013, menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri - suatu peristiwa langka dalam sejarah Gereja Katolik modern.

Dalam pernyataannya, Kardinal Farrell menyoroti warisan spiritual dan kemanusiaan yang ditinggalkan oleh Paus Fransiskus.

"Ia mengajarkan kita untuk hidup dalam nilai-nilai Injil dengan kesetiaan, keberanian, dan kasih universal, terutama bagi mereka yang termiskin dan paling terpinggirkan," tutur Farrell.

Paus Fransiskus, yang menderita penyakit paru-paru kronis dan pernah menjalani pengangkatan sebagian paru-parunya saat masih muda, dirawat di rumah sakit Gemelli pada 14 Februari 2025 karena krisis pernapasan yang berkembang menjadi pneumonia ganda. Ia menghabiskan 38 hari di sana, menjadi masa rawat inap terpanjang selama 12 tahun masa kepausannya.

Rencananya pemakaman jenazah Paus akan dilakukan secara sederhana. "Pemakaman juga yang saya dengar akan dilakukan secara sederhana. Beliau juga sudah menyetujui pemakaman secara sederhana," kata Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC dalam konfrensi persnya di Jakarta, Senin, 21 April 2025.

Disebutkan Antonius, pemakaman sang pemimpin umat Katolik dunia itu akan difokuskan dengan iman gereja umat katolik. "Dan pemakaman akan difokuskan kepada iman gereja akan kebangkitan tuhan," tuturnya.

Paus sempat dirawat pada Februari lalu karena menderita penyakit bronkitis kronis. Dia keluar dari rumah sakit pada 23 Maret lalu. Paus Fransiskus meninggal dunia sehari setelah menghadiri ibadah Paskah di Vatikan, Roma, Senin, 21 April 2025 sekitar jam 07.35 waktu setempat.

Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Gomar Gultom, menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Paus Fransiskus pada Senin, 21 April 2025 di usia 88 tahun. Menurutnya, kepergian Sri Paus merupakan kehilangan besar bagi seluruh umat manusia.

“Beliau sudah menyelesaikan pertandingannya di dunia ini. Dan saya kira dia telah memenangkannya. Seluruh umat manusia kehilangan dengan kepergiannya," ujar Gomar dalam pernyataan resmi yang diterima.

Ia menilai Paus Fransiskus telah menorehkan jejak kemanusiaan dan persaudaraan yang sangat dalam selama masa kepemimpinannya.

Pdt. Gomar menekankan bahwa warisan terbesar Paus Fransiskus adalah penempatannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan di atas segala-galanya. “Beliau mengajarkan bahwa kemanusiaan dan persaudaraan harus melebihi batas-batas agama, bahkan melampaui pilihan iman,” ungkapnya.

Presiden Prabowo Subianto mengutus beberapa tokoh dari Indonesia untuk menghadiri pemakaman pemimpin umat Katolik sedunia Paus Fransiskus di Vatikan. Prabowo mengutus Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) hingga Wamenkeu Thomas Djiwandono (Tommy).

"Atas nama pemerintah Indonesia, Bapak Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk mengutus beberapa tokoh untuk ikut menghadiri acara pemakaman di Vatikan," kata Mensesneg Prasetyo Hadi kepada wartawan di kantor Kemensetneg, Jakarta Pusat pada Rabu, 23 April 2025.

Prasetyo menyebut ada empat tokoh yang diutus. Mereka adalah Jokowi, Thomas Djiwandono, Menteri HAM Natalius Pigai, dan mantan Menteri ESDM Ignasius Jonan.

 

 

 

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI