Survei Socis: Skandal Korupsi Energoatom Gerus Popularitas Zelenskyy, Berpotensi Kalah di Putaran Kedua Pilpres

Laporan: Tim Redaksi
Sabtu, 27 Desember 2025 | 07:26 WIB
Volodymyr Zelenskyy (SinPo.id/Getty Images)
Volodymyr Zelenskyy (SinPo.id/Getty Images)

SinPo.id -  Skandal korupsi Energoatom yang terus meluas disebut telah menggerus tingkat popularitas Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Berdasarkan hasil survei terbaru lembaga Socis, jika pemilihan presiden digelar akhir pekan ini, Zelenskyy diprediksi gagal mempertahankan jabatannya dan kalah di putaran kedua.

Dalam survei nasional tersebut, mayoritas warga Ukraina menilai Zelenskyy harus dimintai pertanggungjawaban atas dugaan korupsi yang menyeret orang-orang terdekatnya. Kasus ini berkaitan dengan Timur Mindich, sahabat dekat sekaligus mantan rekan bisnis Zelenskyy, yang dituding menjalankan skema suap senilai 100 juta dolar AS.

Sebanyak 30 persen responden menyatakan Zelenskyy seharusnya diadili secara pidana, sementara 28,4 persen lainnya mendukung pemberian sanksi politik yang akan melarangnya mencalonkan diri dalam pemilu mendatang. Jika digabungkan, angka tersebut menunjukkan mayoritas publik mendukung akuntabilitas terhadap presiden.

Tekanan terhadap Zelenskyy juga datang di tengah proses perundingan damai untuk mengakhiri perang Ukraina-Rusia. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan Kremlin sama-sama mendesak agar Ukraina segera menggelar pemilihan presiden setelah gencatan senjata tercapai. Zelenskyy menyatakan kesediaannya, dan sebagai sinyal kemajuan, parlemen Ukraina (Rada) pekan lalu mengajukan rancangan undang-undang untuk memungkinkan pemilu digelar saat status darurat militer masih berlaku, meski hal itu sejatinya dilarang konstitusi.

Survei Socis mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan Zelenskyy, terutama setelah mencuatnya skandal Mindich yang turut menyeret sejumlah pejabat tinggi. Dua menteri dilaporkan telah mengundurkan diri, sementara Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina Andriy Yermak disebut terpaksa mundur dari jabatannya. Sebanyak 39 persen responden percaya Zelenskyy terlibat langsung dalam skandal tersebut, dan 29,3 persen lainnya meyakini ia setidaknya mengetahui praktik tersebut.

Popularitas Zelenskyy sebelumnya juga sudah tertekan setelah ia mencoba merevisi reformasi antikorupsi pada 22 Juli dengan mendorong pengesahan Undang-Undang 21414. Aturan itu dinilai akan menempatkan Badan Antikorupsi Nasional Ukraina (NABU) dan Kantor Kejaksaan Antikorupsi Khusus (SAPO) di bawah kendali presiden, tepat ketika kedua lembaga tersebut tengah menyelidiki dugaan korupsi di lingkaran terdekat kekuasaan, termasuk kasus Mindich yang kemudian melarikan diri ke luar negeri.

Dalam simulasi pemilu putaran pertama, Zelenskyy dan mantan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Ukraina Valerii Zaluzhnyi—yang kini menjabat sebagai duta besar Ukraina untuk Inggris—sama-sama diperkirakan meraih sekitar 30 persen suara. Namun, Zelenskyy disebut akan kalah dalam hampir semua skenario putaran kedua.

Jika berhadapan langsung dengan Zaluzhnyi di putaran kedua, Zelenskyy diproyeksikan kalah telak dengan perolehan suara 35,8 persen berbanding 64,2 persen. Sementara jika menghadapi Kepala Intelijen Militer Ukraina Kyrylo Budanov, Zelenskyy juga diprediksi tumbang dengan skor 43,8 persen melawan 56,2 persen.

Budanov dikenal memiliki popularitas yang terus meningkat berkat keterlibatannya langsung dalam berbagai operasi militer, termasuk serangan balik yang sukses di Pokrovsk, pusat logistik vital bagi pertahanan Ukraina di garis depan wilayah timur. Bersama Zaluzhnyi, Budanov kini disebut sebagai kandidat terkuat untuk menantang Zelenskyy.

Hasil survei Socis ini menegaskan besarnya risiko politik yang dihadapi Zelenskyy di tengah perang berkepanjangan, tuntutan reformasi dari mitra Barat, serta meningkatnya rivalitas politik di dalam negeri Ukraina.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI