Legislator Sebut Indonesia Miliki Modal Ekologis untuk Pimpin Pasar Karbon Dunia
SinPo.id - Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna, mengatakan modal ekologis, historis, dan institusional yang sangat kuat untuk tampil sebagai salah satu pemimpin pasar karbon dunia.
Menurutnya, hal itu harus ditunjukkan secara tegas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pasar Karbon agar Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata dalam arsitektur pasar karbon global.
Terlebih Indonesia merupakan negara mega biodiversitas peringkat ketiga dunia setelah Brasil dan Kongo. Namun, Indonesia juga pernah tercatat sebagai negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di dunia.
“Indonesia ini paradoks. Kita punya kekayaan biodiversitas yang luar biasa, tetapi juga pernah dicatat sebagai negara dengan tingkat deforestasi tertinggi," kata Ateng, dalam keterangan persnya, Senin, 22 Desember 2025.
"Justru dari situ dunia melihat Indonesia sebagai kunci dalam agenda pemulihan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim,” imbuhnya.
Ia pun menjelaskan, Indonesia bukan pemain baru dalam pasar karbon. Karena berbagai skema perdagangan karbon global telah lebih dahulu diuji coba di Indonesia seperti REDD, REDD+, hingga REDD++, serta berbagai platform internasional lainnya.
“Sebelum Paris Agreement, Indonesia sudah menjadi lokasi uji coba berbagai skema perdagangan karbon. Artinya, pengalaman kita sangat panjang dan seharusnya menjadi modal besar dalam pasar karbon dunia,” tegasnya.
Selain itu, Ateng juga menyoroti keberadaan pasar karbon domestik Indonesia melalui IDX Carbon yang sejatinya menjadi salah satu yang pertama dibentuk. Namun, pengakuan dunia terhadap seluruh platform dan mekanisme yang dibangun Indonesia masih belum optimal.
Sehingga ia menekankan perlunya Kementerian Lingkungan Hidup menjalin kerja sama dan nota kesepahaman dengan lembaga standar internasional seperti Verra dan Gold Standard dalam mekanisme penghitungan karbon.
“Ini menunjukkan bahwa kita sudah melangkah jauh, tetapi masih perlu memperkuat kepercayaan. Platform sudah ada, pasar sudah dibentuk, tinggal bagaimana kita memastikan mekanismenya diterima dunia," tuturnya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap KTT Pasar Karbon dapat dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk menunjukkan berbagai inisiatif konkret yang telah dan akan dilakukan Indonesia.
“Indonesia harus tampil percaya diri. Kita punya pengalaman, punya modal ekologis, dan punya instrumen kebijakan. Jangan sampai kita hanya jadi pasar, tetapi tidak diakui sebagai pemain utama," tandasnya.

