Iran Kembangkan Produksi Rudal Pasca Gencatan Senjata, Barat Khawatirkan Ancaman Baru
SinPo.id - Gencatan senjata sementara antara Israel dan Republik Islam Iran masih bertahan, namun Teheran terang-terangan menunjukkan ambisi memperluas produksi rudalnya. Pada awal bulan ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa arsenal senjata negara itu kini “jauh melampaui kemampuan selama Perang 12 Hari,” sekaligus menegaskan bahwa Israel “gagal” mencapai tujuannya dalam konflik terbaru tersebut.
Retorika itu kembali ditegaskan pejabat lain. Menteri Pertahanan Brigjen Aziz Nasirzadeh mengklaim bahwa industri pertahanan Iran berkembang pesat dalam beberapa bulan terakhir, dengan kualitas dan kuantitas rudal negara tersebut disebut meningkat signifikan.
Laporan intelijen Eropa: Iran bangun kembali program rudal balistik
Pada Oktober, sumber intelijen Eropa melaporkan bahwa Iran mulai membangun kembali program rudal balistiknya pascakonflik. Meski terdapat sanksi PBB yang melarang penjualan senjata ke Iran, aktivitas rudal Teheran disebut terus berkembang.
Laporan itu menunjukkan adanya pengiriman natrium perklorat dari China ke Pelabuhan Bandar Abbas. Bahan kimia ini merupakan komponen penting untuk propelan padat yang digunakan dalam rudal konvensional Iran, sehingga pengiriman ini memicu kekhawatiran baru di Barat. Upaya Iran mempercepat pengisian ulang stok rudalnya dipandang sebagai ancaman langsung bagi Israel pascaperang.
Iran pelajari strategi baru serangan rudal
Analis dari Foundation for Defense of Democracies, Behnam Ben Taleblu, menyebut Iran telah memperoleh pelajaran penting selama Perang 12 Hari. Menurutnya, Teheran berhasil mengoptimalkan efektivitas serangan dengan “menembakkan lebih sedikit rudal namun menghasilkan dampak lebih besar,” berkat pemilihan target, lokasi peluncuran, dan urutan tembakan yang lebih efisien.
“Tidak diragukan lagi bahwa rezim Iran ingin meningkatkan daya hancur dari kekuatan misilnya,” ujarnya.
Dalam perang tersebut, Iran menembakkan beberapa rudal paling mematikan miliknya, termasuk Shabah-3 (jarak menengah), Fateh-110 (jarak pendek dengan propelan padat), dan Zolfaghar (jarak lebih jauh).
Pamer kekuatan dan dukungan ke kelompok proxy
Selama tahun 2025, Garda Revolusi Iran (IRGC) beberapa kali merilis video propaganda yang menampilkan fasilitas rudal bawah tanah dan persenjataan canggih lainnya. Selain mempertunjukkan kekuatan sendiri, Teheran juga terus memasok senjata, pendanaan, dan pelatihan kepada kelompok sekutunya di kawasan: Hamas di Gaza, Hezbollah di Lebanon, dan Houthi di Yaman.
Pengamat menilai bahwa prioritas Iran terhadap ekspansi rudal semakin meningkat dan menjadi sinyal terbuka bahwa konflik baru dengan Israel bisa saja muncul di masa depan.
