Kampanye Literasi Ekonomi Syariah Harus Direncanakan Secara Matang
SinPo.id - Pegiat literasi ekonomi syariah Erwin Dariyanto menilai, penguatan literasi ekonomi syariah di era digital saat ini menghadapi sejumlah tantangan yang tak ringan. Karenanya, perlu strategi dan perencanaan yang matang agar kampanye ekonomi syariah berhasil serta diterima masyarakat.
"Salah satu medium yang bisa digunakan untuk mengkampanyekan ekonomi syariah bisa melalui media massa. Namun di era digital seperti saat ini kampanye di media massa memiliki setidaknya dua tantangan yakni rendahnya minat baca dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi informasi," kata Edwin dalam Training of Trainer (ToT) Ekonomi Syariah yang digelar Bank Indonesia (BI) bekerjasama dengan Forum Jurnalis Wakaf dan Zakat Indonesia (Forjukafi), dikutip Minggu, 16 November 2025.
Edwin melanjutkan, dua tantangan ini harus disikapi secara serius. Menghadapi rendahnya minat baca masyarakat misalnya, harus disikapi dengan membuat artikel-artikel ringan yang menarik.
"Masyarakat suka dengan berita-berita ringan, menarik dan inspiratif. Mereka tidak suka dengan berita dengan bahasa, katakanlah, terlalu tinggi yang sulit dipahami," kata Erwin
Menurut Erwin, banyak istilah ekonomi syariah hanya bisa dipahami oleh para akademisi, praktisi dan pelaku industri syariah. Padahal, kampanye ekonomi syariah harus menyasar semua pihak hingga level masyarakat umum.
"BI bersama kementerian dan lembaga terkait ekonomi syariah harus duduk bareng dengan jurnalis, praktisi dan akademisi untuk merumuskan kampanye ekonomi syariah dengan bahasa ringan yang mudah dipahami masyarakat," papar Erwin yang juga salah satu Ketua Departemen di Forjukafi ini.
Sementara itu, pegiat informasi publik yang juga dosen ilmu komunikasi Universitas Dian Nusantara, Ferdi Setiawan, mengapresiasi kegiatan ToT jurnalis se-Jabodetabek tentang Ekonomi Syariah yang digawangi BI bersama Forjukafi.
"Patut diapresiasi. Forum seperti ini adalah cara komunikasi yang efektif, karena melibatkan langsung pemangku kebijakan ekonomi dan keuangan syariah, para akademisi, praktisi dan jurnalis. Dengan demikian penguatan literasi tentang ekonomi syariah bisa lebih optimal dan sosialisasi gerakan ekonomi syariah bisa semakin masif, sehingga menginspirasi masyarakat luas," kata Ferdi yang juga Wakil Pemimpin Redaksi SinPo TV.
Menurut Ferdi, penguatan literasi ekonomi syariah merupakan wujud nyata dari keterbukaan informasi publik. Karena terkait dengan transparansi dan kepercayaan masyarakat terhadap gerakan atau kegiatan ekonomi syariah yang sedang marak dikampanyekan BI bersama kementerian dan lembaga ekonomi syariah.
"Pelatihan yang diadakan Bank Indonesia (BI) bersama Forum Jurnalis Wakaf dan Zakat Indonesia (Forjukafi) ini bertujuan untuk memperluas literasi ekonomi syariah di kalangan media serta meningkatkan pemahaman mengenai perkembangan keuangan syariah nasional," kata Ferdi, yang juga ketua bidang organisasi Forjukafi.

