Bawaslu Siapkan Deteksi Dini Ancaman Deepfake pada Pemilu Mendatang
SinPo.id - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI menegaskan tengah menyiapkan strategi pengawasan baru untuk mencegah ledakan penyalahgunaan informasi berbasis kecerdasan buatan (AI) pada pemilu yang akan datang. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya pergerakan percakapan politik di platform digital.
Anggota Bawaslu RI Lolly Suhenty menyatakan pola pengawasan konvensional tak lagi memadai menghadapi dinamika informasi yang berlangsung sangat cepat di ranah daring.
“Percepatan informasi menuntut penyelenggara pemilu khususnya Bawaslu untuk benar-benar adaptif,” ujar Lolly dalam diskusi “Antisipasi Perkembangan AI dan Model Pengawasan Digital di Pemilu” di Media Center Bawaslu RI, Jumat, 14 November 2025.
Lolly menegaskan salah satu langkah utama adalah memperkuat kerja sama dengan perusahaan platform digital. Pada pemilu sebelumnya, Bawaslu menggandeng TikTok, Meta, dan YouTube. Kolaborasi itu, kata dia, memungkinkan percepatan identifikasi serta penanganan konten bermasalah.
“Kolaborasi ini memungkinkan Bawaslu mempercepat identifikasi dan penanganan konten bermasalah,” tuturnya.
Dia juga menjelaskan, Bawaslu telah menginisiasi pembentukan Koalisi Lawan Hoaks Pemilu, yang beranggotakan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Badan Siber dan Sandi Negara, perusahaan platform digital, serta organisasi masyarakat sipil.
"Melalui koalisi tersebut, proses klarifikasi isu berlangsung lebih efisien karena kapasitas cek fakta para mitra dapat dimobilisasi dengan cepat," kata Lolly.
Kendati demikian, Lolly menilai tantangan ke depan jauh lebih kompleks. Menurutnya, ancaman deepfake, rekayasa audio maupun video berbasis AI, diprediksi menjadi risiko terbesar dalam siklus pemilu berikutnya.
“AI memang memberi peluang percepatan mitigasi, tetapi di saat yang sama membawa banyak jebakan,” ujarnya.
Lolly menambahkan, Bawaslu sedang menyiapkan mekanisme deteksi dini dan protokol penanganan terhadap konten AI yang berpotensi menyesatkan publik.
Dia berharap perluasan kolaborasi digital dapat menjadi pertahanan awal menghadapi gelombang manipulasi informasi yang semakin canggih.
“Bawaslu menyatakan tengah menyiapkan mekanisme deteksi dini dan protokol penanganan terhadap konten AI yang dapat menyesatkan publik,” tandasnya.

