Komisi XI DPR Nilai Kinerja BI Belum Sentuh Sektor Riil secara Maksimal
SinPo.id - Anggota Komisi XI DPR RI, Habib Idrus Salim Aljufri, memaparkan tiga isu utama yang perlu mendapatkan perhatian serius dari kinerja Bank Indonesia (BI). Yang pertama, pembiayaan syariah yang belum optimal, lantaran pertumbuhannya hanya mencapai 7,55 persen.
Menurutnya, salah satu penyebab utama belum optimalnya pembiayaan syariah adalah tingginya margin pembiayaan, keterbatasan likuiditas bank syariah, serta minimnya instrumen keuangan syariah yang likuid di pasar.
“Yang saya lihat penyebab utamanya adalah margin pembiayaan yang masih tinggi, likuiditas bank syariah yang terbatas, dan belum banyak instrumen keuangan syariah yang kemudian likuid,” kata Idrus, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 12 November 2025.
Kedua, pihaknya menyoroti akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang masih terbatas. Karena berdasarkan data realisasi fasilitasi pembiayaan baru mencapai sekitar Rp869 miliar dari target Rp1,1 triliun.
“Banyak UMKM yang belum bankable karena keterbatasan agunan, literasi keuangan yang rendah, dan proses pembiayaan yang masih sangat rumit,” jelasnya.
Terakhir, Idrus menyoroti adanya kesenjangan antara stabilitas sistem keuangan nasional dengan akses ekonomi riil di lapangan. Meski BI berhasil menjaga stabilitas moneter dan mendorong digitalisasi sistem pembayaran, dampaknya dinilai belum sepenuhnya terasa di sektor riil, terutama bagi pelaku ekonomi kecil.
“Meskipun BI berhasil menjaga stabilitas moneter dan digitalisasi sistem pembayaran, tapi sepertinya belum sepenuhnya terasa di sektor riil. Ada lag di sini, ada gap antara kekuatan sistem keuangan dan kebutuhan pelaku ekonomi kecil di lapangan,” tuturnya.
