Hamas Tak Akan Menyerah di Rafah, Peringatkan Krisis Bisa Akhiri Gencatan Senjata dengan Israel

Laporan: Tim Redaksi
Senin, 10 November 2025 | 06:59 WIB
Foto: AP
Foto: AP

SinPo.id -  Sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, menegaskan bahwa para pejuangnya yang masih bertahan di wilayah Rafah tidak akan menyerah kepada pasukan Israel, meski tekanan diplomatik dan militer terus meningkat.

Dalam pernyataan resmi pada Minggu 9 November 2025, kelompok tersebut menolak wacana menyerahkan senjata kepada mediator Mesir demi mendapatkan jalur aman keluar dari wilayah yang kini dikuasai Israel.

“Musuh harus tahu bahwa konsep menyerah tidak ada dalam kamus Brigade Al-Qassam,” tegas pernyataan itu.
“Para pejuang kami hanya mempertahankan diri dari agresi Israel.”

Mediator Mesir Ajukan Tawaran Jalur Aman

Sumber diplomatik yang dikutip Reuters pada Kamis lalu menyebutkan, para mediator Mesir telah mengusulkan agar sekitar 200 pejuang Hamas di Rafah menyerahkan senjata mereka kepada Mesir dengan imbalan jalur aman menuju wilayah lain di Jalur Gaza.

Sebagai bagian dari kesepakatan, para pejuang juga diharuskan memberikan informasi mengenai terowongan bawah tanah di Rafah, agar dapat dihancurkan. Tawaran ini disebut sebagai upaya memecah kebuntuan yang dapat mengancam gencatan senjata yang telah berlangsung sejak 10 Oktober.

Namun, Al-Qassam menolak secara terang-terangan, menyebut Israel sebagai pihak yang memicu bentrokan baru di Rafah, dan menuntut mediator “memikul tanggung jawab penuh” untuk mencegah pecahnya perang kembali.

“Kami menempatkan para mediator di hadapan tanggung jawab mereka. Mereka harus menemukan solusi untuk menjamin keberlanjutan gencatan senjata dan mencegah Israel menggunakan alasan rapuh untuk menyerang warga sipil,” tulis Al-Qassam.

Krisis Rafah Ancam Perdamaian Rapuh

Sejak gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat berlaku di Gaza, Rafah menjadi titik terpanas di selatan wilayah tersebut. Setidaknya dua serangan terhadap pasukan Israel terjadi di sana, yang kemudian dibalas dengan serangan udara Israel yang menewaskan puluhan warga Palestina.

Israel menyalahkan Hamas atas insiden tersebut, namun kelompok itu membantah terlibat. Dalam salah satu bentrokan terbaru, tiga tentara Israel dilaporkan tewas, sementara pasukan Israel membalas dengan serangan artileri dan udara ke wilayah padat penduduk.

Seorang pejabat Amerika Serikat, Utusan Khusus Steve Witkoff, mengatakan bahwa kesepakatan penyerahan senjata di Rafah akan menjadi ujian bagi proses pelucutan senjata Hamas di seluruh Gaza. Namun hingga kini, negosiasi belum menunjukkan hasil konkret.

Pertukaran Jenazah Berlanjut di Tengah Ketegangan

Dalam perkembangan terpisah, Brigade Al-Qassam mengumumkan bahwa mereka akan menyerahkan jenazah tentara Israel Hadar Goldin pada Minggu.

Sejak awal gencatan senjata, Hamas telah menyerahkan 23 dari 28 jenazah sandera Israel yang tewas, sementara lima lainnya belum ditemukan. Hamas menyebut kerusakan parah di Gaza menyulitkan proses pencarian, sedangkan Israel menuduh kelompok itu sengaja menunda.

Sebagai bagian dari proses pertukaran, Israel telah menyerahkan 300 jenazah warga Palestina kepada pihak Gaza, menurut data dari Kementerian Kesehatan setempat.

Korban Jiwa Terus Bertambah

Kementerian Kesehatan Gaza pada Minggu melaporkan satu korban tewas akibat serangan udara Israel di Bani Suhaila, timur Khan Younis, meski militer Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi.

Sejak serangan 7 Oktober 2023, Hamas dan kelompok militan lain telah menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 warga Israel, menurut data pemerintah Israel. Sebagai balasan, ofensif Israel di Gaza telah menewaskan hampir 69.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 170.000 lainnya, menjadikannya konflik paling mematikan dalam sejarah modern kawasan itu.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI