Alireza Talakoubnejad: Iran Pasca-Perang dengan Israel Berubah Total
SinPo.id - Seorang pemuda Iran bernama Alireza Talakoubnejad, yang tinggal di Amerika Serikat, membagikan kisah mengejutkan setelah kembali ke tanah airnya usai perang brutal antara Iran dan Israel. Dalam unggahan panjang di X (Twitter) pada akhir Oktober 2025, ia menggambarkan Iran kini sebagai negara yang “benar-benar berbeda dari yang ia tinggalkan” — berubah secara sosial, ekonomi, dan psikologis.
Talakoubnejad menyoroti empat bidang utama perubahan: dampak pascaperang, kondisi kehidupan sehari-hari, sikap publik terhadap rezim, dan pergeseran norma sosial. Ia menegaskan, perubahan besar ini lahir dari dalam masyarakat Iran sendiri, bukan karena pengaruh luar.
Rakyat Kehilangan Kepercayaan pada Pemerintah
Dalam tulisannya, Talakoubnejad menyebut bahwa ketidakpercayaan terhadap pemerintah Iran kini mencapai titik terendah dalam sejarah modern. Krisis listrik, kekurangan air, dan inflasi yang melonjak membuat rakyat semakin frustrasi.
“Iran selalu punya masalah, tapi tak pernah separah ini,” tulisnya.
“Kini, pemerintah menghadapi sembilan krisis setiap hari.”
Ia menggambarkan pemandangan kelam: pemadaman listrik tiap malam, kabut asap beracun, dan harga kebutuhan pokok yang melonjak hingga membuat makanan menjadi barang mewah. Di Ahvaz, asap dari kebakaran rawa di Irak menyebabkan gangguan pernapasan massal.
Bahkan, untuk membeli mobil, warga harus mengikuti undian dan menunggu bertahun-tahun. Bisnis gulung tikar, pemilik usaha kecil membeli emas demi bertahan, sementara nilai mata uang terus anjlok.
Talakoubnejad juga menulis bahwa ketakutan pemerintah terhadap protes rakyat membuat banyak masalah — termasuk krisis air — tidak terselesaikan karena takut memicu kemarahan publik.
“Kini mereka terlalu takut untuk memaksa perubahan,” tulisnya. “Kekuatan lama mereka hilang.”
Luka Perang yang Tak Terlihat
Meskipun kota Teheran secara fisik tampak selamat dari kehancuran besar, trauma psikologis rakyatnya begitu dalam. Talakoubnejad mengaku banyak warga yang masih bergantung pada obat tidur dan trauma oleh suara keras.
Salah satu kisah paling membekas adalah pengeboman Penjara Evin oleh Israel pada 23 Juni 2025, yang menewaskan seorang gadis muda saat mengunjungi ayahnya yang dipenjara karena utang kecil.
Banyak warga menggambarkan hari-hari terburuk perang ketika Teheran menjadi kota mati, nyaris tanpa suara.
“Seseorang mengatakan padaku, ia keluar untuk membeli roti dan hanya mendengar kicauan burung. Tak ada suara manusia — seperti hidup di akhir zaman.”
Ironisnya, beberapa warga Iran kini menyuarakan rasa hormat terhadap ketepatan militer Israel, yang dianggap “menyerang secara terukur dan dengan tujuan jelas.”
Revolusi Sosial di Jalanan Iran
Perubahan paling mencolok, kata Talakoubnejad, justru muncul dari kehidupan sehari-hari rakyat Iran.
Penegakan hijab hampir lenyap, bahkan di tempat-tempat publik seperti bandara dan bank.
“Kebebasan berpakaian ini tidak diberikan pemerintah — tapi direbut rakyat dengan harga sangat mahal,” tulisnya.
Ia juga terkejut melihat komunitas LGBTQ tampil terbuka di ruang publik, termasuk pasangan sejenis dan transgender yang hidup tanpa sembunyi. Ia menyaksikan “revolusi diam-diam” di tengah masyarakat yang dulunya konservatif.
Kepercayaan terhadap ulama pun runtuh. Banyak warga kini beralih ke praktik spiritual alternatif — jimat, mantra, dan kepercayaan mistik menggantikan doktrin agama resmi.
Generasi muda, katanya, “hidup sepenuhnya online dan menyerap budaya global”, tanpa merasa perlu menyembunyikan pesta, tato, atau hubungan pribadi dari orang tua.
“Perubahan Datang dari Dalam”
Talakoubnejad menutup refleksinya dengan pesan optimis bahwa perubahan besar Iran tidak datang dari pemerintah, reformis, atau kekuatan asing, tetapi dari masyarakatnya sendiri.
“Perubahan sejati lahir dari keluarga dan hati masyarakat.
Inilah perubahan yang paling nyata dan tak bisa dibalikkan.”
Ia menulis bahwa melihat seorang wanita tanpa hijab berjalan berdampingan dengan sahabatnya yang berhijab penuh tanpa konflik menjadi simbol harapan baru bagi Iran.
Menurutnya, meski negeri itu masih terpuruk dalam krisis ekonomi dan politik, gelombang perubahan sosial yang tumbuh dari bawah tak lagi bisa dihentikan.

