Home /

Gencatan Senjata Israel–Hamas Masih Rapuh, AS Optimistis Perdamaian Akan Bertahan

Laporan: Tim Redaksi
Rabu, 22 Oktober 2025 | 07:31 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/AP)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (SinPo.id/AP)

SinPo.id -  Gencatan senjata antara Israel dan Hamas kembali diuji setelah pecahnya bentrokan pada Minggu 19 Oktober 2025, disertai tuduhan pelanggaran dari kedua pihak. Meski demikian, baik Israel maupun Hamas menegaskan tetap berkomitmen terhadap perjanjian damai yang mulai berlaku sejak 10 Oktober lalu.

Wakil Presiden Amerika Serikat, J.D. Vance, bersama utusan Timur Tengah pemerintahan Trump, Steve Witkoff, melakukan kunjungan ke Israel pada Selasa 21 Oktober 2025. Mereka menyampaikan optimisme terhadap stabilitas gencatan senjata yang disebut berjalan “lebih baik dari perkiraan” setelah dua tahun perang berdarah.

“Saya cukup yakin perdamaian ini akan bertahan. Tapi jika Hamas tidak bekerja sama, mereka akan dilenyapkan,” tegas Vance saat tiba di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv.

Vance juga membantah bahwa kunjungannya—yang merupakan kunjungan pertamanya sebagai wakil presiden—dilakukan secara mendadak untuk menjaga agar gencatan senjata tetap berjalan. Ia menyebut tujuan utama kunjungannya adalah memastikan keamanan dan rekonstruksi Gaza, sembari mempersiapkan pembentukan pasukan keamanan internasional yang akan ditempatkan di wilayah tersebut.

Menurut Vance, pasukan itu kemungkinan akan melibatkan negara-negara seperti Turki dan Indonesia, dengan dukungan simbolik dari Yordania, Jerman, Inggris, dan Denmark.

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Mesir, Mayor Jenderal Hassan Rashad, juga mengunjungi Israel untuk bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Witkoff, membahas stabilitas jangka panjang gencatan senjata.

Dari pihak Hamas, negosiator senior kelompok tersebut menyatakan bahwa mereka berkomitmen penuh untuk mengakhiri perang secara permanen. Hamas juga mengonfirmasi telah menemukan dua jenazah sandera tambahan, yang telah diserahkan kembali ke Israel melalui Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

Vance meminta publik Israel untuk bersabar terhadap lambatnya proses pemulangan para sandera.

“Beberapa dari mereka mungkin terkubur di bawah ribuan ton puing. Kita harus bersabar dan fokus pada kemanusiaan,” ujarnya.

Sementara di Gaza, Badan Pangan Dunia (WFP) melaporkan peningkatan pengiriman bantuan kemanusiaan. Dalam sepuluh hari terakhir, lebih dari 530 truk telah masuk ke wilayah itu, cukup untuk memberi makan hampir setengah juta orang selama dua minggu, meski jumlah itu masih jauh di bawah rata-rata sebelum perang.

Namun, kondisi ekonomi di Gaza masih kacau. Harga bahan pokok melonjak tajam, dengan sekarung tepung 25 kilogram sempat menembus harga USD 70, sebelum turun menjadi sekitar USD 30. Hamas kini melakukan razia terhadap pedagang yang menimbun barang, dan memastikan bantuan berjalan lancar.

Nahed Sheheiber, kepala serikat pengemudi truk Gaza, menegaskan bahwa tidak ada penjarahan bantuan sejak gencatan senjata dimulai, meski warga masih kesulitan menarik uang tunai karena sebagian besar bank dan ATM tidak beroperasi.

“Tanpa uang dan akses ke bank, harga yang turun tidak berarti apa-apa,” keluh seorang warga Gaza, Kamilia Al-Ajez.

Dengan situasi di lapangan yang masih rapuh, upaya diplomasi internasional terus berjalan untuk menjaga agar perdamaian rapuh antara Israel dan Hamas tidak kembali pecah.

TAG:
BERITALAINNYA
BERITATERKINI