Trump Perintahkan Israel Hentikan Bom Gaza, Hamas Setuju Bebaskan Sandera tapi Serangan Udara Berlanjut
SinPo.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Israel untuk segera menghentikan pemboman di Jalur Gaza setelah Hamas menyatakan kesediaannya membebaskan sandera dan menerima sejumlah poin dalam rencana perdamaian AS. Namun, isu krusial seperti perlucutan senjata Hamas dan penarikan penuh pasukan Israel masih belum terpecahkan.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya bersiap melakukan "implementasi segera" tahap pertama dari rencana Trump, yakni pembebasan sandera Israel. Tidak lama kemudian, media Israel melaporkan pemerintah telah memerintahkan militer untuk mengurangi aktivitas ofensif di Gaza.
Namun, warga Gaza melaporkan hal sebaliknya. Tank dan jet tempur Israel tetap menggempur Gaza City hanya beberapa jam setelah pengumuman Trump, termasuk serangan di kawasan Talateeni Street dan permukiman di Remal. Serangan juga dilaporkan terjadi di Khan Younis, meski belum ada laporan korban jiwa.
Rencana Perdamaian Trump
Trump sebelumnya memberikan batas waktu hingga Minggu bagi Hamas untuk menerima rencana 20 poin yang mencakup:
gencatan senjata segera,
pertukaran seluruh sandera dengan tahanan Palestina,
penarikan bertahap pasukan Israel,
perlucutan senjata Hamas,
serta pembentukan pemerintahan transisi di Gaza yang dipimpin badan internasional.
Trump mengklaim Hamas telah menunjukkan kesiapan untuk "perdamaian abadi" dan meletakkan tanggung jawab pada pemerintahan Netanyahu.
“Israel harus segera hentikan pemboman Gaza agar para sandera bisa dikeluarkan dengan aman dan cepat,” tulis Trump di platform Truth Social.
Tekanan di Israel
Keluarga para sandera mendesak Netanyahu segera memulai negosiasi, sementara publik Israel kian lelah dengan perang yang telah berlangsung dua tahun. Di sisi lain, koalisi sayap kanan Netanyahu menolak penghentian operasi militer sebelum Hamas benar-benar dilucuti.
Israel memulai ofensifnya setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik 251 sandera. Hingga kini, Israel menyebut masih ada 48 sandera, dengan 20 di antaranya dipastikan hidup.
Serangan balasan Israel telah menewaskan lebih dari 66.000 orang di Gaza, mayoritas warga sipil, menurut otoritas kesehatan setempat. Jalur Gaza kini porak-poranda, dengan blokade bantuan yang memicu kelaparan di banyak wilayah.
Isu yang Belum Tuntas
Dalam tanggapan resminya, Hamas menyetujui pembebasan sandera dan menyerahkan administrasi Gaza kepada badan teknokrat independen dengan dukungan Arab dan Islam. Namun, kelompok itu menegaskan tidak akan melucuti senjata sebelum pendudukan Israel berakhir sepenuhnya.
Mediator dari Qatar, Mesir, dan AS disebut sudah mulai membahas teknis lanjutan dari rencana Trump.
Krisis Kemanusiaan dan Tekanan Internasional
Sementara itu, di tengah perundingan, armada Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan medis dan pangan menuju Gaza dicegat Angkatan Laut Israel. Konvoi kapal dari berbagai negara Eropa dialihkan ke Pelabuhan Ashdod, memicu kecaman internasional.
Uni Eropa, PBB, dan organisasi HAM menyerukan Israel agar menghentikan blokade serta menjamin keselamatan aktivis internasional yang ikut dalam misi tersebut.

