Khazanah Islam

Masjid Baiturrahman Aceh: Dibakar Belanda hingga Saksi Bisu Tsunami

Laporan: Tio Pirnando
Minggu, 02 Maret 2025 | 13:15 WIB
Masjid Baiturrahman Aceh (Sinpo.id/Wikipedia)
Masjid Baiturrahman Aceh (Sinpo.id/Wikipedia)

SinPo.id -  Masjid Raya Baiturrahman Aceh merupakan simbol, saksi bisu dari kejayaan hingga perjuangan rakyat Tanah Rencong melawan penjajah. Masjid yang berada tepat di jantung Provinsi Aceh ini, dibangun pada tahun 1612, oleh Sultan Iskandar Muda, (Raja Aceh periode 1607-1636). Ada juga yang mempercayai masjid ini bahkan sudah dibangun jauh sebelumnya yaitu pada masa kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan alaiddin Mahmudsyah pada tahun 1292.

Terlepas dari perbedaan penyebutan tahun, bangunan asli masjid ini pernah dibakar pada saat kerajaan Aceh dipimpin Sultan Nurul Alam pada tahun 1675 hingga 1678. Pada akhirnya dibangunlah masjid baru di lokasi yang sama sebagai gantinya.

Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Masjid Raya Baiturrahman dipergunakan untuk banyak hal, tak  terbatas pada kegiatan ritual saja, tetapi juga sebagai tempat menyiarkan agama Islam. Pada masa itu bukan hanya warga lokal saja yang ingin menuntut ilmu melainkan juga para pendatang dari Melayu, Persia, Turki dan Arab. 

Terlebih, Sultan Iskandar Muda dianggap sebagai sultan terhebat yang membawa Aceh Darussalam ke puncak kejayaannya. 

Di bawah kepemimpinannya, kerajaan mengalami ekspansi yang signifikan, menguasai sebagian besar wilayah Sumatera dan mengadakan ekspedisi militer ke berbagai wilayah di Nusantara, seperti Melaka, Johor, dan Pahang. Ia juga memperkuat angkatan laut dan membangun infrastruktur kerajaan, termasuk benteng-benteng pertahanan. Sedangkan pelabuhan-pelabuhannya, menjadi pusat perdagangan yang ramai, menghubungkan Aceh dengan berbagai wilayah di Asia, bahkan Eropa. 

Kemakmuran ekonomi ini kemudian mendukung pembangunan infrastruktur, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan pendanaan kekuatan militer.

Bahkan, Aceh yang dikenal dengan penguasaan maritimnya, merasakan puncak kejayaannya hingga abad ke-17. Namun berbagai faktor internal dan eksternal akhirnya mengantar kerajaan ini menuju kehancuran. Dan, Masjid Baiturrahman terus menemani dari setiap sisi kejayaan hingga kehancuran tersebut. 

Di Bakar Belanda 

Ketika campur tangan asing memainkan peranannya mengikis kekuatan Aceh Darussalam, kolonialisme Eropa khususnya Belanda dan Inggris, secara aktif berupaya menguasai wilayah yang kaya akan rempah-rempah ini. Intervensi asing ini berupa dukungan kepada pihak-pihak yang bertikai di Aceh, dengan menyediakan persenjataan, hingga pendudukan secara langsung.

Pada 10 April 1873, saat kolonial Belanda menyerang Kesultanan Aceh, masyarakat saat itu menggunakan bangunan masjid  sebagai benteng pertempuran, termasuk pengaturan strategi perang untuk  menyerang pasukan penjajah. 

Belanda yang merasa kerepotan dengan perlawanan rakyat Aceh dan kematian Mayjen Kohler satu itu, akhirnya memutuskan untuk membakar masjid ini pada tahun 1873. Dimana, pasukan Belanda  menembakkan suar ke atap jerami, hal itulah yang menyebabkan masjid terbakar. Alasannya, menurut mereka posisi masjid Baiturrahman sangat strategis. 

Pembakaran tersebut tidak melemahkan perjuangan rakyat Aceh, tetapi justru meningkatkan perlawanan. 

Untuk meredam kemarahan rakyat Aceh, pemerintah kolonial Belanda yang diwakili Gubernur Jenderal Van Lansnerge pada 1879 menjanjikan pemimpin lokal bahwa dia akan membangun kembali masjid dan menciptakan tempat yang hangat untuk permintaan maaf. Tujuannya untuk meluluhkan hati rakyat Aceh yang murka perihal kejadian tersebut.

Akhirnya pada 9 Oktober 1879, peletakan batu pertama pembangunan Masjid Raya Baiturrahman dilakukan oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Pada tahun 27 Desember 1881 pembangunan Masjid Raya Baiturrahman Aceh akhirnya selesai dibangun serta diresmikan pada saat itu juga.

Sejak diresmikan, tidak sedikit rakyat Aceh yang menolak untuk beribadah di masjid ini karena dibangun oleh Belanda.

Saksi Bisu Tsunami  

Pada tanggal 26 Desember 2004, gelombang raksasa setinggi 21 meter menghantam pesisir utara Banda Aceh.  Nyaris semua bangunan rata dengan tanah atau hanyut terhempas gelombang ke arah pusat Kota Banda Aceh – beserta ribuan jiwa yang menjadi korban.

Dan, Masjid Baiturrahman tetap kokoh berdiri di tengah hamparan puing bangunan sekitarnya yang telah hancur. Hanya sebagian kecil bagian bangunan yang mengalami kerusakan akibat bencana tersebut. Adapun pekarangan masjid dipenuhi mayat-mayat yang bergelimpangan.

Masjid lantas digunakan sebagai tempat pengungsian puluhan ribu orang yang selamat dari bencana tersebut. 

Setelah bencana tsunami, Masjid Raya Baiturrahman mengalami renovasi besar-besaran. Kini, masjid  tampil lebih megah dengan arsitektur yang terinspirasi dari Masjid Nabawi. Berlantai marmer, dihiasi 12 payung raksasa menambah kemegahan masjid kebanggaan masyarakat Aceh.

Peresmian masjid yang dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 13 Maret 2017 semakin mengukuhkan status Masjid Raya Baiturrahman sebagai ikon Aceh dan destinasi wisata religi. Masjid ini juga menjadi objek wisata religi yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Masjid Raya Baiturrahman pun bukan hanya sebuah bangunan fisik, tetapi juga simbol ketegaran dan kebangkitan masyarakat Aceh. Keberadaannya menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang dan membangun kembali daerah yang hancur.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI