Hadapi Perang Dagang Trump, Cina Bangun Kekuatan dengan Jerman

Laporan:
Selasa, 10 Juli 2018 | 11:40 WIB
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Berlin, sinpo.id - Perdana Menteri Cina Li Keqiang pada Senin (9/7/2018) menyambangi Berlin, Jerman untuk membahas kerjasama ekonomi kedua negara menghadapi perang dagang AS.

Kanselir Jerman Angela Markel manyambut hangat kedatangan Li. Jerman dan Cina ingin mencari strategi yang lebih terkoordinasi dalam menanggapi perang dagang yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump.

Mingu lalu, konflik perdagangan antara AS dan Cina meruncing, setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif impor yang lebih tinggi terhadap berbagai barang teknologi yang diimpor dari Cina.

Langkah AS langsung dibalas Beijing dengan penerapan tarif impor yang lebih tinggi lagi untuk produk-produk pertanian AS. Cina terutama ingin para pemilih Donald Trump di daerah pedesaan dan kawasan pertanian AS merasakan kerugian yang disebabkan oleh politik dagang presidennya.

Kini, perang dagang itu dikhawatirkan Jerman berlanjut ke sektor otomotif. Jika kedua negara memberlakukan tarif impor lebih tinggi terhadap mobil, perusahaan-perusahaan Jerman akan menderita kerugian signifikan. Karena AS dan Cina adalah pasar ekspor utama mobil Jerman. Selain itu, BMW dan Daimler/Mercedes Benz misalnya, mengekspor kebanyakan kendaraannya ke Cina dari pabrik-pabrik yang ada di AS.

Sementara itu Direktur pelaksana Kamar Dagang dan Industri Jerman DIHT, Martin Wansleben mendukung penguatan hubungan ekonomi Jerman-Cina.

"Amerika Serikat dulunya adalah mitra dagang yang baik bagi kami. Tapi Trump jelas ingin kemitraan ini hilang," kata Wansleben.

Ketua Asosiasi Perdagangan Luar Negeri Jerman BGA, Holger Bingmann mengatakan, Cina sekarang sudah bergerak ke arah yang benar di sektor layanan keuangan dan sektor otomotif. Namun sektor-sektor lain masih jauh dari jangkauan pelaku pasar asing.

Ketua BGA itu selanjutnya mengatakan, mengingat agenda proteksionis Donald Trump maka "Cina dan Uni Eropa harus memiliki kepentingan untuk memperkuat Organisasi Perdagangan Dunia WTO dan sistem arbitrasenya."

BERITALAINNYA
BERITATERKINI