Demokrat Sebut Presidential Club Sejalan dengan Harapan SBY

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 14 Mei 2024 | 17:41 WIB
Deputi Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat Yan Harahap. (SinPo.id/Dok. Pribadi)
Deputi Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat Yan Harahap. (SinPo.id/Dok. Pribadi)

SinPo.id - Deputi Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat Yan Harahap menyatakan bahwa ide pembentukan Presidential Club yang digagas calon presiden (capres) RI terpilih 2024-2029, Prabowo Subianto, sejalan dengan harapan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Menurutnya, merupakan pemikiran yang sesat. Ia pun meminta semua pihak tidak suudzon atau berburuk sangka pada ide pembentukan Presidential Club.

"Memang Presidential club ini sudah sejalan dengan harapan Pak SBY beberapa waktu yang lalu," kata Yan dalam keterangannya pada Selasa, 14 Mei 2024.

Dia menjelaskan, SBY pernah berharap pemerintahan Indonesia memiliki Presidential Club usai menghadiri acara Club de Madrid-organisasi yang anggotanya merupakan mantan Presiden dan juga eks Perdana Menteri negara-negara demokrasi di dunia-pada akhir 2022 lalu.

Menurutnya, SBY ingin para mantan Presiden RI rukun, kompak, guyub, serta rutin berkumpul untuk memberikan kontribusi dan pemikiran demi menghadirkan solusi bagi bangsa dan negara yang lebih baik ke depannya.

"Itulah pesan dan harapan Pak SBY yang disampaikan pada kami sebagai kader," katanya.

"Ide awal pendirian Presidential Club itu bertujuan agar Presiden terdahulu yang masih ada, berkumpul kompak rukun dan guyub satu sama lain. Jadi, para mantan presiden bisa tetap rutin bertemu dan berdiskusi tentang masalah-masalah strategis kebangsaan. Sehingga terjaga silaturahim kebangsaannya dan menjadi teladan bagi rakyat," sambung Yan.

Ia bilang, semangat dari pembentukan Presiden Club ialah menyatukan tokoh bangsa. Menurutnya, hal tersebut merupakan ide yang brilian.

Yan memandang, Presiden RI yang tengah menjabat akan mendapatkan masukan dan ide-ide bila para mantan Presiden RI sering berkumpul dan berdiskusi.

"Apa yang bisa diimplementasikan di era ini dan apa yang tidak atau belum bisa, tentu kan dapat memperkaya perspektif Presiden yang sedang menjabat," katanya.

Yan menambahkan, Indonesia merupakan bangsa yang besar sehingga membutuhkan diskusi antartokoh bangsa.

"Para mantan Presiden ini kan tokoh besar bangsa yang sudah memiliki pengalaman memimpin bangsa besar ini. Jika para tokoh bangsa ini rukun, kompak dan guyub, rakyat pun senang dan adem melihatnya," tutur dia.sinpo

Komentar: