Ekonom: Sinergi Kebijakan Jadi Kunci Stabilitas Ekonomi
SinPo.id - Di tengah dinamika pasar keuangan global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kinerja fiskal Indonesia dinilai tetap menunjukkan fondasi yang kuat.
Berbagai indikator ekonomi mencerminkan ketahanan ekonomi nasional yang perlu terus diperkuat melalui sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter.
Ekonom Gede Sandra menilai capaian fiskal pemerintah hingga April 2026 memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional.
Penerimaan negara tercatat mencapai Rp918 triliun, sementara belanja negara sebesar Rp1.024 triliun dengan defisit yang masih terkendali di kisaran 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menurutnya, salah satu perkembangan yang patut diapresiasi adalah keberhasilan Indonesia kembali mencatat surplus keseimbangan primer setelah sempat berada di zona negatif pada kuartal pertama tahun ini.
Selain itu, neraca perdagangan juga terus menunjukkan kinerja positif yang menjadi penopang stabilitas ekonomi nasional.
“Kinerja fiskal sebenarnya cukup baik. Penerimaan negara kuat, defisit tetap terjaga, keseimbangan primer kembali surplus, dan neraca perdagangan masih positif. Ini menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat,” ujar Gede dikutip pada Minggu, 7 Juni 2026.
Ia menilai capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan eksternal, termasuk perubahan arah kebijakan suku bunga global dan dinamika arus modal internasional.
Gede menekankan bahwa koordinasi yang erat antara otoritas fiskal dan moneter akan menjadi faktor penentu dalam menjaga kepercayaan pasar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Menurutnya, pengalaman sejumlah negara berkembang menunjukkan bahwa keberhasilan menjaga stabilitas ekonomi tidak hanya bergantung pada satu instrumen kebijakan, melainkan pada keselarasan langkah seluruh pemangku kepentingan ekonomi.
Selain itu, upaya diversifikasi transaksi internasional melalui penggunaan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) dinilai dapat menjadi strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dan meningkatkan ketahanan ekonomi nasional terhadap gejolak global.
Gede mencontohkan pengalaman Brasil pada awal 2000-an yang berhasil keluar dari tekanan ekonomi melalui kombinasi disiplin fiskal, reformasi anggaran, penguatan keseimbangan primer, serta strategi mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
“Yang terpenting adalah menjaga konsistensi kebijakan dan memperkuat koordinasi. Ketika fiskal dan moneter berjalan selaras, persepsi pasar dapat membaik, stabilitas terjaga, dan ruang pertumbuhan ekonomi menjadi lebih besar,” katanya.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, berbagai capaian fiskal yang telah diraih pemerintah dinilai menjadi modal penting untuk menjaga optimisme pasar dan memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia ke depan.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus mempererat koordinasi guna memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga sekaligus mendukung momentum pertumbuhan yang berkelanjutan.
