Pramono Dorong Biopori Jumbo Jadi Model Pengelolaan Sampah Berbasis Warga di Jakarta

Laporan: Sigit Nuryadin
Minggu, 07 Juni 2026 | 14:53 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (Foto: SinPo.id/Pemprov DKI Jakarta)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (Foto: SinPo.id/Pemprov DKI Jakarta)

SinPo.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong program Biopori Jumbo di RW 014 Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, menjadi percontohan pengelolaan sampah berbasis warga di Ibu Kota. 

Dia menilai program itu dapat membantu mengurangi beban sampah Jakarta yang mencapai sekitar 9.000 ton per hari.

Pramono mengatakan pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, terutama rumah tangga. Menurut dia, pengolahan sampah organik di tingkat lingkungan menjadi salah satu cara untuk mengurangi tekanan terhadap fasilitas pengolahan sampah di hilir.

"Kalau ini berjalan baik, ini bisa menjadi role model penanganan sampah di Jakarta. Saya sengaja ingin menunjukkan bahwa penanganan sampah oleh Pemerintah DKI Jakarta tidak dilakukan setengah hati," kata Pramono saat meninjau lokasi pengelolaan sampah Biopori Jumbo di RW 014 Pondok Kelapa, Minggu, 7 Juni 2026.

Di lingkungan tersebut, kata dia, warga menyiapkan 150 titik Biopori Jumbo untuk melayani sekitar 300 rumah. Adapun sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan dan limbah dapur dimasukkan ke dalam lubang biopori untuk diolah menjadi kompos.

Pramono mengapresiasi inisiatif warga yang telah memulai pemilahan dan pengolahan sampah sejak sebelum terbitnya Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

"Atas nama Pemerintah DKI Jakarta, kami mengapresiasi apa yang dilakukan RW 014 dengan enam RT yang berinisiatif mengelola sampah melalui metode biopori jumbo. Gerakan ini menunjukkan solusi lingkungan dapat dimulai dari tingkat komunitas," tuturnya. 

Menurut Pramono, pengelolaan sampah berbasis warga perlu berjalan beriringan dengan penguatan fasilitas pengolahan berskala kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata dia, saat ini mengandalkan sejumlah fasilitas seperti TPST Bantargebang, fasilitas pengolahan sampah di Marunda dan Sunter, serta fasilitas refuse derived fuel (RDF) di Rorotan dan Bantargebang.

"Sebagian besar sampah digunakan untuk pembangkit listrik tenaga sampah di Bantargebang, Marunda, dan Sunter. Sebagian lagi untuk RDF di Rorotan dan Bantargebang. Sekarang juga sedang dikembangkan pengolahan menjadi fuel energy di Bantargebang," kata Pramono. 

Sementara itu, Ketua RW 014 Pondok Kelapa Teguh Husaini mengatakan gerakan pemilahan sampah telah dijalankan warga selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, setelah terbitnya Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, warga memperluas upaya tersebut dengan membangun Biopori Jumbo di lingkungan permukiman.

"Sebelum ada Ingub Nomor 5 Tahun 2026, kami sudah memilah sampah sejak tiga tahun lalu. Memang belum sempurna, tapi sudah mulai berjalan. Dengan adanya Ingub ini, kami lebih serius sampai membuat biopori jumbo," kata Teguh.

Teguh mengungkapkan, saat ini warga telah membangun 130 titik Biopori Jumbo dari target 150 unit. Ke depan, kata dia, jumlahnya ditargetkan bertambah menjadi 200 unit untuk mengolah sampah organik rumah tangga maupun sampah dari ruang publik.

Teguh berharap seluruh sampah organik rumah tangga di wilayahnya dapat diolah melalui Biopori Jumbo sehingga target zero waste dapat tercapai. 

"Kami berharap nanti sampah organik rumah tangga bisa masuk ke dalam biopori sehingga target zero waste dapat tercapai," ujarnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI