DPR: Perlu Langkah Strategis Kurangi Ketergantungan Terhadap Dolar AS
SinPo.id - Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi tidak bisa hanya disikapi melalui langkah jangka pendek di sektor moneter.
Ia menilai, tekanan terhadap rupiah merupakan dampak dari struktur ekonomi nasional yang selama dua dekade terakhir masih bergantung pada pembiayaan luar negeri berbasis valuta asing (valas).
Sehingga, pihaknya menekankan perlunya langkah-langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mata uang asing lainnya.
"Tekanan rupiah hari ini memang disebabkan oleh struktur ekonomi kita dalam kurun dua dekade terakhir yang lebih ditopang pada pinjaman luar negeri berbasis valas. Itu terlihat dari neraca transaksi berjalan kita yang lebih sering mengalami defisit,” kata Kamrussamad, dalam keterangan persnya, Jumat, 5 Juni 2026.
Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah mengaktifkan kembali skema Local Currency Settlement (LCS) yang selama ini telah disepakati Indonesia dengan sejumlah negara mitra dagang, seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, dan negara lainnya.
Pemanfaatan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral dinilai dapat mengurangi kebutuhan penggunaan dolar AS sehingga tekanan terhadap cadangan devisa dan nilai tukar rupiah dapat diminimalkan.
“Yang pertama harus dilakukan adalah mengaktifkan kembali Local Currency Settlement yang pernah ditandatangani dengan beberapa negara, termasuk China, Jepang, dan Malaysia. Ini penting untuk mengurangi ketergantungan transaksi perdagangan terhadap dolar,” ungkapnya.
Selain itu, penguatan LCS menjadi bagian dari upaya jangka panjang membangun ketahanan ekonomi nasional, agar Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika ekonomi global.
