AHY Dorong Indonesia Jadi Jembatan ASEAN-Eurasia

Laporan: Sigit Nuryadin
Jumat, 05 Juni 2026 | 09:33 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (Foto: SinPo.id/Kemenkoinfra)
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (Foto: SinPo.id/Kemenkoinfra)

SinPo.id - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY menyatakan Indonesia berkomitmen menjadi jembatan strategis antara negara-negara ASEAN dan kawasan Eurasia di tengah meningkatnya ketidakpastian global. 

Komitmen itu disampaikan dalam St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026 di Rusia, Kamis, 4 Juni 2026.

Dalam forum yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan dari negara-negara ASEAN serta anggota Eurasian Economic Union (EAEU) itu, AHY menyoroti tantangan global yang kian kompleks. 

Menurut dia, dunia saat ini menghadapi ketidakpastian ekonomi, gangguan rantai pasok, tekanan terhadap ketahanan energi dan pangan, serta meningkatnya fragmentasi geopolitik.

“Indonesia berupaya menjadi jembatan, penyeimbang, dan pembangun yang produktif,” kata AHY dalam keterangan resminya, Jumat, 5 Juni 2026.

AHY mengatakan Indonesia tetap mengedepankan politik luar negeri yang terbuka dan inklusif. Dia menilai pendekatan kolaboratif menjadi kunci untuk menghadapi berbagai tantangan global yang tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja.

“Kami mencari persahabatan dengan semua bangsa. Kami percaya pada dialog daripada konfrontasi, dan kerja sama daripada persaingan,” tuturnya. 

AHY menjelaskan pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik seperti jalan, pelabuhan, bandara, dan jaringan transportasi. 

Menurut dia, infrastruktur juga menjadi fondasi untuk memperkuat ketahanan pangan, energi, dan air, sekaligus memperluas akses ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah, kata AHY, saat ini tengah mempercepat sejumlah agenda pembangunan yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. 

"Program tersebut meliputi penguatan konektivitas nasional, pengembangan transportasi massal, pembangunan infrastruktur ketahanan air, transformasi energi bersih, serta perlindungan kawasan pesisir dari dampak perubahan iklim," ungkap AHY. 

Dalam forum EAEU–ASEAN itu, AHY juga mendorong penguatan kerja sama yang lebih konkret antara kedua kawasan. Dia menyebut sejumlah sektor yang berpotensi dikembangkan bersama, antara lain transportasi rendah karbon, konektivitas strategis, infrastruktur tangguh iklim, energi bersih, sistem logistik berbasis teknologi, dan ekonomi maritim berkelanjutan.

Menurut AHY, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara kepulauan terbesar di dunia sekaligus ekonomi terbesar di Asia Tenggara. 

"Posisi tersebut dinilai membuka peluang kemitraan dengan negara-negara EAEU yang memiliki keunggulan di bidang energi, teknologi, manufaktur, dan logistik," ucap dia. 

Dia menegaskan pembangunan infrastruktur hijau menjadi salah satu prioritas Indonesia untuk menghadapi tantangan masa depan. 

AHY juga mengungkapkan, transformasi menuju sistem transportasi yang lebih bersih, pengembangan energi terbarukan, serta pembangunan yang adaptif terhadap perubahan iklim menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah.

“Tiga prioritas Indonesia membentuk satu visi terpadu, yaitu Indonesia yang lebih kuat, lebih hijau, dan lebih siap menghadapi masa depan,” kata AHY.

Lebih jauh, AHY menekankan pentingnya membangun kemitraan yang dilandasi rasa saling menghormati dan saling menguntungkan. Menurut dia, kolaborasi global menjadi kebutuhan mendesak di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia saat ini.

“Dunia membutuhkan lebih banyak kolaborasi, lebih banyak kepercayaan, dan lebih banyak solusi bersama. Pada akhirnya, yang kita bangun bukan hanya ekonomi yang lebih kuat, melainkan kepercayaan yang lebih kokoh di antara bangsa-bangsa,” ujar AHY.

Forum SPIEF 2026 menjadi ajang bagi Indonesia untuk memperkuat hubungan dengan Rusia dan negara-negara Eurasia sekaligus menjajaki peluang kerja sama di bidang infrastruktur, transportasi, energi, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI