BRIN: Fenomena El Niño Berpotensi Tingkatkan Hasil Tangkapan Tuna
SinPo.id - Fenomena El Niño kerap dikaitkan dengan berbagai dampak negatif seperti kekeringan dan penurunan curah hujan. Namun di sektor kelautan, fenomena tersebut juga dapat membawa peluang, terutama melalui peningkatan produktivitas perairan di sejumlah wilayah Indonesia.
Profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto, menjelaskan bahwa ketika El Niño berkembang, suhu laut di sejumlah perairan Indonesia cenderung menurun akibat perpindahan massa air hangat ke bagian timur Samudra Pasifik. Kondisi tersebut mendorong terjadinya penguatan proses upwelling, yaitu naiknya massa air kaya nutrien dari lapisan laut yang lebih dalam ke permukaan.
“Pada saat El Niño, produktivitas perairan di selatan Jawa dan Sumatra meningkat karena konsentrasi klorofil menjadi lebih tinggi. Kondisi ini mendukung ketersediaan pakan alami dan berpotensi meningkatkan kelimpahan ikan,” jelasnya dalam Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045 yang diselenggarakan Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN bersama University of Maryland, dikutip Jumat, 5 Juni 2026.
Peningkatan kandungan nutrien tersebut akan mendorong produktivitas primer perairan, yang menjadi fondasi rantai makanan laut. Dampaknya dapat dirasakan hingga tingkat sumber daya ikan yang menjadi target penangkapan nelayan.
Fenomena ini, lanjut Dwi, telah diamati pada sejumlah kejadian El Niño sebelumnya, terutama di perairan selatan Jawa, Bali, dan Sumatra. Wilayah-wilayah tersebut menunjukkan peningkatan produktivitas biologis yang ditandai oleh tingginya konsentrasi klorofil di permukaan laut.
Selain memengaruhi produktivitas perairan, El Niño juga dapat mengubah distribusi ikan pelagis besar, termasuk tuna. Meski sebagian populasi tuna mengikuti pergerakan massa air hangat ke arah timur Pasifik, perubahan struktur kolom air di sejumlah perairan Indonesia justru dapat memberikan keuntungan bagi aktivitas penangkapan.
Dwi menjelaskan bahwa selama El Niño kedalaman termoklin di beberapa wilayah perairan Indonesia dapat menjadi lebih dangkal. Kondisi ini membuat tuna berada lebih dekat ke permukaan sehingga lebih mudah dijangkau oleh nelayan.
“Pada beberapa wilayah, tuna menjadi lebih dekat ke permukaan sehingga lebih mudah ditangkap. Karena itu, dampak El Niño terhadap sektor perikanan tidak selalu negatif,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perubahan kondisi oseanografi tetap perlu dicermati karena dapat menimbulkan dampak yang berbeda pada setiap ekosistem laut. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah gangguan terhadap terumbu karang di wilayah tertentu akibat perubahan kondisi lingkungan laut.
Karena itu, pemantauan oseanografi secara berkelanjutan menjadi penting tidak hanya untuk memahami risiko yang muncul, tetapi juga untuk mengidentifikasi peluang pemanfaatan sumber daya laut secara lebih optimal dan berkelanjutan.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Prof. A’an Johan Wahyudi, mengatakan bahwa riset kelautan memiliki peran strategis dalam mengungkap dinamika laut sekaligus potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia.
Menurutnya, informasi ilmiah yang dihasilkan melalui penelitian oseanografi dapat menjadi dasar bagi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut yang lebih berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga riset untuk mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kelautan dan laut dalam.
“Forum ilmiah yang mempertemukan peneliti dari berbagai institusi menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi dan mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kelautan dan laut dalam Indonesia,” ujarnya.
