Didorong Nilai Ekspor, Kemendag Catat Neraca Dagang April 2026 Surplus US$ 0,09 Miliar

Laporan: Tio Pirnando
Kamis, 04 Juni 2026 | 12:59 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso. (SinPo.id/dok. Kemendag)
Menteri Perdagangan Budi Santoso. (SinPo.id/dok. Kemendag)

SinPo.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus dengan nilai US$ 0,09 miliar pada April 2026. Hal ini karena ditopang surplus kinerja sektor nonmigas sebesar US$ 3,53 miliar, sementara sektor migas defisit US$ 3,44 miliar.

"Jika dilihat secara kumulatif, neraca perdagangan Januari—April 2026 mencatatkan surplus sebesar US$ 5,64 miliar. Surplus tersebut terutama didorong oleh surplus nonmigas sebesar US$ 14,16 miliar dan defisit migas sebesar US$ 8,52 miliar. Namun, nilai surplus Januari—April 2026 tersebut lebih rendah dibandingkan surplus pada periode yang sama untuk 2025 yang mencapai US$ 11,07 miliar," kata Budi dalam keterangannya, Kamis, 4 Juni 2026.

Adapun tiga komoditas nonmigas penyumbang surplus terbesar selama periode Januari—April 2026 adalah lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) senilai US$ 11,71 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) US$ 8,34 miliar, serta besi dan baja (HS 72) US$ 5,71 miliar. Sedangkan, mesin dan peralatan mekanis (HS 84) menjadi penyebab defisit perdagangan tertinggi, yaitu sebesar US$ 9,87 miliar, diikuti mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) US$ 4,95 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) US$ 2,80 miliar.

Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat (AS) menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia pada Januari—April 2026 dengan nilai US$ 6,81 miliar, disusul India US$ 4,44 miliar dan Filipina US$ 2,77 miliar. Sedangkan defisit nonmigas terdalam terjadi dengan Tiongkok sebesar US$ 8,03 miliar, disusul Australia US$ 3,05 miliar dan Argentina US$ 0,73 miliar.

Budi memastikan, pihaknya akan terus memperkuat diversifikasi pasar ekspor, mendorong hilirisasi industri, serta meningkatkan ekspor produk bernilai tambah agar kinerja perdagangan nasional tidak bergantung fluktuasi harga global.

"Kemendag terus bersinergi memantau dan menentukan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas perdagangan, memperkuat daya saing ekspor, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," ujarnya.

Dia memamaparkan, pada April 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$ 25,30 miliar. Nilai ini tumbuh 12,32 persen dibandingkan Maret 2026 (month to month/MtM) atau naik 21,98 persen dibandingkan April 2025 (year-on-year/YoY). Peningkatan ekspor bulanan ini didorong kenaikan ekspor nonmigas sebesar 13,66 persen, sementara ekspor migas turun 9,81 persen (MtM).

Beberapa komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi, antara lain, kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) yang meningkat 54,44 persen; tembakau dan rokok (HS 24) 43,49 persen, kayu dan barang dari kayu (HS 44) 40,91 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) 38,71 persen, serta mesin dan peralatan mekanis (HS 84) 37,26 persen (MtM).

Menurut dia, ekspor nonmigas juga dipengaruhi peningkatan permintaan negara-negara mitra dagang utama. Tiga negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia dengan pertumbuhan tertinggi pada April 2026, yaitu Uni Emirat Arab dengan kenaikan 305,21 persen, Afrika Selatan (288,40 persen), dan Belgia (117,84 persen) (MtM).

"Secara kumulatif, pada Januari—April 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$ 92,15 miliar atau meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (cumulative to cumulative/CtC). Kinerja ini ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 6,28 persen menjadi US$ 87,74 miliar, sementara ekspor migas terkontraksi 8,30 persen menjadi US$ 4,41 miliar. Tren positif ini menunjukkan kinerja perdagangan Indonesia yang tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global," ungkapnya.

Budi menjelaskan, kinerja ekspor pada periode Januari–April 2026 didorong oleh pertumbuhan ekspor sektor industri pengolahan yang meningkat 9,78 persen dibandingkan Januari—April 2025. Kenaikan ekspor kumulatif tersebut terutama ditopang ekspor nikel dan barang daripadanya (HS 75) yang melonjak 63,99 persen; aluminium dan barang daripadanya (HS 76) 55,30 persen; bahan kimia organik (HS 29) 30,86 persen; tembaga dan barang daripadanya (HS 74) 25,34 persen; serta timah dan barang daripadanya (HS 80) 24,62 persen (CtC).

"Pertumbuhan ekspor komoditas-komoditas tersebut didorong tingginya permintaan global yang diikuti kenaikan harga di pasar internasional. Kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor industri pengolahan Indonesia," paparnya.

Di sisi lain, ekspor sektor pertanian turun 26,27 persen. Sektor pertambangan dan lainnya juga turun 8,44 persen (CtC).

"Kakao dan olahannya (HS 18) serta kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) menjadi komoditas pertanian dengan penurunan terdalam, masing-masing sebesar 36,33 persen dan 33,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (CtC)," kata dia.

Dari sisi tujuan ekspor Indonesia, ekspor nonmigas ke Mesir mencatat lonjakan signifikan sebesar 42,74 persen pada Januari—April 2026, diikuti Spanyol 33,18 persen, Afrika Selatan 23,13 persen, Hongkong 21,31, dan Tiongkok 20,58 persen (CtC). Sementara itu, jika dilihat secara kawasan, ekspor nonmigas seperti ke Asia Tengah lainnya (Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan), Afrika Utara, dan Afrika Selatan menunjukkan performa positif yang kuat selama periode Januari—April 2026.


Pada April 2026, nilai impor tercatat sebesar USD 25,21 miliar. Nilai ini meningkat 31,28 persen dibandingkan Maret 2026 (MtM) dan tumbuh 22,49 persen dibandingkan April 2025 (YoY). Lonjakan impor secara bulanan terutama disebabkan oleh tumbuhnya impor migas sebesar 45,09 persen (MtM) dan impor nonmigas sebesar 28,55 persen (MtM).

Kenaikan impor ini terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang. Kenaikan impor tertinggi dialami barang konsumsi sebesar 56,67 persen, diikuti bahan bahan baku dan penolong 35,46 persen dan barang modal 6,33 persen (MtM).

Selanjutnya, secara kumulatif, total impor pada Januari—April 2026 mencapai USD 86,51 miliar atau naik 13,40 persen dibanding Januari—April 2025 (CtC). Kenaikan tersebut ditopang impor migas sebesar 17,58 persen dan impor nonmigas sebesar 12,70 persen (CtC).

"Kenaikan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang. Kondisi ini mengindikasikan peningkatan kebutuhan konsumsi masyarakat serta kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal," tandasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI