PDIP: Persahabatan Prabowo-Megawati Kokoh, Bukan Sebatas Teman Makan Nasi Goreng

Laporan: Juven Martua Sitompul
Selasa, 02 Juni 2026 | 14:19 WIB
Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah. (SinPo.id/Galuh Ratnatika)
Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah. (SinPo.id/Galuh Ratnatika)

SinPo.id - Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah menegaskan hubungan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dengan Presiden Prabowo Subianto kokoh. Hubungan keduanya bukan hanya sebatas teman makan nasi goreng.

Demikian disampaikan Said merespons momen Prabowo dan Megawati yang bergandengan tangan saat acara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin, 1 Juni 2026.

"Persahabatan kedua beliau ini kokoh, bukan hanya sebatas pertemanan nasi goreng yang seringkali dilihat oleh publik. Pertemanan kedua beliau ini tulus, tak ada cela," kata Said dalam keterangannya, Jakarta, Selasa, 2 Mei 2026.

Bagi Said, hubungan Megawati dengan Prabowo tidak bisa hanya dilihat dari statusnya sebagai Kepala Negara yang sedang memimpin dengan mantan Presiden. 

Keduanya, menjalin persahabatan dalam banyak aspek. Pertama, aspek pertemanan lama di mana Megawati dengan Prabowo menjadi sahabat yang sudah terjalin puluhan tahun.

"Kedua beliau bahkan sama sama pernah berjuang dalam kontestasi pada pemilihan presiden tahun 2009, kedua beliau menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden. Pertemanan dan silaturahmi itu terus berlanjut meski pilpres tahun 2009 telah usai," kata dia.

Tak hanya itu, kata Said, saat PDIP mencalonkan Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2014, dan berkontestasi dengan Prabowo waktu itu, hingga berlanjut pada periode berikutnya, hubungan dan silaturahmi keduanya tetap terjaga dengan baik. 

Ketua Banggar DPR RI ini melanjutkan selain hubungan persahabatan, Megawati saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP dan BRIN. Meski Presiddn telah berganti, Prabowo tetap mempercayakan tugas kenegaraan tersebut kepada Megawati, sekalipun PDIP bukan bagian dari pemerintahan.

"Artinya, Presiden Prabowo memandang Ibu Mega memiliki kapasitas kenegarawanan, demikian halnya Presiden Prabowo, sehingga urusan tersebut melampaui urusan politik praktis," katanya.

Said mengatakan baik Megawati dan Prabowo memiliki pandangan yang sama, yakni lembaga negara seperti BPIP memang harus di jabat oleh negarawan, sekaligus kegigihan seorang tokoh dalam menanamkan nilai nilai Pancasila.

"Urusan Pancasila ini melampaui segala galanya, dan itulah yang dipedomani oleh kedua beliau. Jadi kemesraan pada acara peringatan hari Pancasila itu manisfestasi dari hal ini," ucapnya.

Dia menuturkan pada aspek ketiga, hubungan Megawati dengan Prabowo berdiri di atas pandangan politik kebangsaan. Perbedaan jalan politik, di mana PDIP sebagai partai penyeimbang tidak dimaknai oleh Prabowo sebagai musuh.

Bahkan dalam pidatonya di DPR RI, Prabowo menghormati dan mengapresiasi berbagai lontaran masukan yang diberikan kader kader PDIP di Legislatif. Menurutnya, sosok keduanya sudah pada level political beyond, berpolitik untuk bangsa dan negara, bukan semata mata kekuasaan.

"Karena ketiga fondasi hubungan dan cara pandang kedua beliau inilah mengapa hubungan Ibu Mega dan Presiden Prabowo awet, tidak ternoda, meski berbeda haluan politik kepartaiannya," katanya.

Oleh karena itu, Said memandang keteladanan itu pula yang diikuti oleh jajaran pada fraksi PDIP dan Gerindra di DPR. Kedua fraksi bisa cair saling berdiskusi, bertukar pandangan dalam membahas kebijakan dan program program pemerintah, meskipun dalam beberapa hal terjadi perbedaan pandangan.

"Namun, keduanya tetap memahami posisi masing-masing dan saling menghargai sebagai sahabat politik yang tetap bisa bersinergi," tegasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI