Cegah Peternak Gulung Tikar, Kementan Minta Jaga Harga Ayam Rp19. 500 per Kg

Laporan: Tio Pirnando
Sabtu, 30 Mei 2026 | 21:42 WIB
Ilustrasi peternakan ayam ras (SinPo.id/ Dok. PKH)
Ilustrasi peternakan ayam ras (SinPo.id/ Dok. PKH)

SinPo.id - Kementerian Pertanian (Kementan) mengaku menerima laporan harga ayam hidup (live bird) di sejumlah daerah berada di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp19.500 per kilogram. Ketika harga turun di bawah biaya produksi, peternak rakyat paling terdampak.

"Informasi yang kami dapat, khususnya di Jawa Tengah, ada live bird dijual di harga Rp15 ribu. Kondisi ini sangat berat bagi peternak mandiri atau peternak skala kecil,” kata Dirjen Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH, I Ketut Wirata, dalam keterangannya, Sabtu, 30 Mei 2026. 

Ketut menyampaikan, pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama Asosiasi Rumah Potong Unggas Indonesia (ARPHUIN) dan pelaku rumah potong hewan unggas (RPHU) guna memperkuat komitmen seluruh rantai usaha perunggasan dalam menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.

Menurut Ketut, dengan harga turun di bawah biaya produksi, peternak besar masih bisa bertahan lantaran ditopang modal yang kuat. Namun, bagi peternak mandiri, kondisi ini bisa mempercepat proses gulung tikar.

Untuk itu, Ketut mengajak seluruh pelaku industri memperkuat kolaborasi menjaga keseimbangan pasar, termasuk melalui pola pembelian yang tidak memperburuk tekanan harga di tingkat peternak.

"Kami mengimbau dan mengharapkan komitmen bersama agar RPHU jangan sampai membeli ayam di bawah harga acuan yang telah disepakati," kata dia.

Ketut menilai, rumah potong hewan unggas memiliki peran strategis dalam rantai pasok perunggasan nasional. Karena menjadi salah satu instrumen penting dalam penyerapan produksi peternak dan pengendalian pasokan di pasar.

Sebagai bagian dari upaya stabilisasi, Kementan juga mengambil langkah pengendalian dengan menunda sementara rekomendasi usaha tertentu di sektor perunggasan hingga harga kembali sesuai dengan acuan pemerintah.

"Selama harga belum sesuai acuan pemerintah, seluruh rekomendasi terkait pelaku usaha terkait perunggasan di Ditjen PKH diminta untuk ditunda sementara," kata Ketut.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH, Hary Suhada menambahkan, langkah ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam menjaga harga ayam hidup tetap berada pada level yang menguntungkan peternak.

"Kami tadi sudah sepakat semua rekomendasi terkait perunggasan sementara kita tunda dulu sampai tercapai harga yang telah ditentukan pemerintah. Saya mohon sekali kolaborasinya untuk tidak berkontribusi dalam penurunan harga," kata Hary.

Sementara itu, Ketua ARPHUIN, Sigit Pambudi mengatakan, rumah potong hewan unggas tetap berupaya menyerap produksi peternak untuk membantu menjaga keseimbangan pasar.

"Situasi yang kami hadapi memang sama-sama sulit. Jadi bukan sesuatu yang kemudian euforia kami mengambil untung atau mengambil kesempatan," kata Sigit.

Menurut dia, rumah potong hewan unggas tetap menjalankan kegiatan pemotongan secara maksimal, termasuk selama masa libur panjang, untuk membantu penyerapan ayam hidup dari peternak.

"Meskipun tanggal merah kami tetap gaspol melakukan pemotongan untuk menyerap ayam. Jadi kalau kami menekan harga itu tidak ada," kata Sigit.

Senada disampaikan Keenan Pardede yang mewakili RPHU PT Charoen Pokphand Indonesia. Ia mengatakan, pelaku usaha telah memaksimalkan kapasitas pemotongan untuk membantu penyerapan produksi peternak di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.

"Kami di RPHU sudah memaksimalkan pemotongan, hampir 400 truk dipotong tiap harinya," kata Keenan.

Dia menerangkan, pelaku usaha juga berupaya mengikuti arahan pemerintah terkait harga pembelian ayam hidup meskipun menghadapi tantangan biaya produksi yang meningkat.

"Kami juga sudah mengikuti arahan Rp19.500 dan itu menjadi beban produksi yang cukup berat. Karena itu kami berharap lewat forum ini kita bisa kompak," ujarnya.

 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI