Refleksi Iduladha, Ketum Muhammadiyah Harap Gen Z-Alfa Tak Sering Rehaban
SinPo.id - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir berpesan kepada generasi milenial dan generasi Z serta Alfa, agar menjadikan Iduladha 2026 sebagai sarana membentuk karakter unggul dan berkemajuan.
Upaya yang perlu dilakukan yaitu taat beragama, gemar membaca, mengasah kecerdasan, berbuat baik, hormat kepada sesama, berjiwa mandiri, beretos kerja tinggi, hemat, serta sikap hidup luhur akal budi.
"Sebaliknya hidup tidak malas-malasan atau rebahan, bersikap instan, bermewah-mewahan, merugikan orang lain, sombong diri, serta melanggar etika serta moral yang diajarkan agama," kata Haedar dalam keterangannya, Rabu, 27 Mei 2026.
Menurut Haedar, iduladha, baik ibadah salatnya maupun kurbannya sejatinya tidak berhenti di formalitas semata. Hakikat dan tujuan utamanya ialah meraih ketakwaan. Ibadah salat apapun jenisnya, ialah mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan membentuk ketakwaan, yakni menjadi pribadi yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhkan larangan-Nya sehingga mendapatkan rida dan karunia-Nya.
"Demikian halnya dengan ibadah kurban, bahwa hakikat dan tujuannya ialah terwujud ketakwaan bagi yang melaksanakannya," ujarnya.
Haedar menyampaikan, saat ini bangsa masih dililit problem kesenjangan sosial dengan segelintir orang menguasai bagian terbesar kekayaan negeri, serta korupsi, konflik sosial, perilaku aji mumpung.
"Sesungguhnya sumber utamanya karena ketamakan ego untuk memiliki apa saja dengan hasrat rakus. Mereka hanya mengabdi pada libido ketamakan yang tak berkesudahan, tak peduli bila harus merugikan kehidupan sesama dan lingkungan semesta," ucapnya.
Semestinya, pengorbanan Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail, dalam berkurban yang mengandung spiritualitas revolusioner, yaitu ketakwaan total atau sebenar-benarnya takwa, menjadi pelajaran.
Jika spiritualitas takwa buah dari ibadah Iduladha menjelma dalam diri setiap insan muslim, apapun posisi dan perannya dalam kehidupan sehari-hari, maka akan melahirkan kesalehan yang membumi di dunia nyata.
"Baik menjadi rakyat biasa apalagi menjadi elite wibawa di manapun posisinya maka siapa pun yang memiliki spiritualitas takwa akan selalu takut kepada Allah, sehingga dirinya menjadi insan yang selalu konsisten berbuat kebajikan dan sebaliknya menjauhi segala bentuk keburukan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan," paparnya.
Haedar menilai, insan yang berspiritualitas takwa akan selalu menunjukkan keteladanan hidup sekecil apapun wujudnya, seperti ketulusan, kejujuran, kerendah-hatian, kesungguhan, kesabaran, kesederhanaan, kepedulian, dan segala bentuk kebajikan hidup lainnya.
"Insan yang bertakwa senantiasa hidup hemat, gemar berilmu, berpikir positif, maju, dan menjadikan dunia sebagai ladang akhirat sehingga hidupnya bermakna," ungkapnya.
Selain itu, insan yang memiliki spiritualitas takwa, taat beribadah sesibuk apa pun serta menjalani kehidupan dengan baik, menjaga kehormatan diri, berbuat luhur terhadap sesama, toleran, merawat persatuan, dan menebar keluhuran akal budi dalam kehidupan.
Insan berspiritualitas takwa tidak akan korupsi, melakukan segala bentuk penyimpangan, penyalahgunaan kekuasaan, mengakali sistem yang sudah baik, merusak alam dan lingkungan demi keuntungan yang berlebihan, bersikap otoriter atau sekehendaknya, kebal dan antikritik, angkuh atau takabur diri, bebal langkah meski salah, dan berbuat segala keburukan yang dilarang Tuhan serta bertentangan dengan hukum dan etika luhur.
Dia melanjutkan, insan yang di dalam jiwanya terdapat ketakwaan akan senantiasa bertutur kata yang baik, menahan marah, menggunakan media publik termasuk media sosial dengan etika mulia, menjauhi ujaran kebencian dan fitnah serta segala ujaran buruk lainnya.
"Hidupnya senantiasa terjaga dan mampu membedakan mana yang benar dari yang salah, yang baik dari yang buruk, serta yang pantas dari yang tidak pantas," tukasnya.
