Seri Kesehatan Haji

Cuaca Ekstrem di Arafah dan Mina saat Puncak Ibadah Haji, Jemaah Diminta Aktif Dinginkan Tubuh

Laporan: Tim Redaksi
Selasa, 26 Mei 2026 | 07:23 WIB
Jemaah haji di tenda(SinPo.id/Kemenhaj)
Jemaah haji di tenda(SinPo.id/Kemenhaj)

SinPo.id - Tim Kesehatan Haji Sektor 1 Daerah Kerja (Daker) Bandara, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, mengingatkan jemaah haji untuk mewaspadai risiko kelelahan panas (heat exhaustion) hingga sengatan panas (heat stroke) saat menjalani puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna.

Ia menjelaskan kondisi tenda di Arafah dan Mina yang padat, ditambah cuaca ekstrem, kerap membuat pendingin ruangan atau AC maktab tidak bekerja optimal. Karena itu, jemaah diminta melakukan langkah mandiri untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.

“Ketika fasilitas pendingin ruang di tenda tidak mampu meredam panas, kita tidak boleh pasrah. Kita harus mengaktifkan sistem ‘pendinginan eksternal mandiri’ untuk menurunkan suhu tubuh. Jangan menunggu sampai merasa pusing atau lemas baru bertindak,” ujar Fathi dalam keterangannya, dikutip Selasa, 26 Mei 2026.

Fathi menyarankan jemaah melakukan teknik pendinginan tubuh dengan mengompres area pembuluh darah besar menggunakan handuk atau kain basah. Area yang dianjurkan antara lain leher bagian belakang atau samping, ketiak, dan lipatan paha.

Menurut dia, mendinginkan titik-titik tersebut dapat membantu menurunkan suhu darah lebih cepat sehingga rasa sejuk menyebar ke seluruh tubuh.

Selain itu, jemaah juga dianjurkan membawa botol semprot kecil berisi air untuk digunakan saat cuaca terasa sangat panas. Air dapat disemprotkan ke wajah, lengan, dan leher, kemudian tubuh dikipas menggunakan kipas manual maupun kipas portable.

“Proses penguapan air dari kulit ini meniru mekanisme keringat alami dan sangat efektif membuang panas tubuh secara instan,” katanya.

Fathi juga mengingatkan pentingnya penggunaan pakaian longgar dan berbahan tipis, khususnya bagi jemaah wanita dan jemaah pria yang telah mengambil tahallul awal sehingga diperbolehkan melepas pakaian ihram.

Ia menyarankan penggunaan pakaian berbahan katun tipis dengan warna cerah agar panas tubuh tidak terperangkap di dalam pakaian.

Di sisi lain, jemaah diminta mengenali tanda-tanda awal gangguan akibat panas ekstrem. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai di antaranya kram otot, pusing, mual, jantung berdebar cepat, hingga keringat berlebih.

Fathi menegaskan kondisi menjadi darurat apabila tubuh terasa sangat panas namun tidak lagi mengeluarkan keringat karena hal itu bisa menjadi tanda heat stroke yang berpotensi membahayakan nyawa.

“Segera cari petugas kesehatan jika Anda atau rekan satu tenda mulai mengalami gejala tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, menjaga kondisi tubuh tetap stabil selama Armuzna menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan kesehatan serius akibat cuaca panas ekstrem di Arab Saudi.

Selain menjaga diri sendiri, jemaah juga diimbau saling memperhatikan kondisi sesama penghuni tenda, termasuk saling mengingatkan untuk minum air dan menyemprot tubuh agar tetap sejuk.

“Saling peduli dan perhatikan kondisi teman satu tenda. Saling mengingatkan untuk menyemprot air dan minum adalah sedekah terbaik di Armuzna,” pungkasnya.

BERITALAINNYA
BERITATERKINI