Konektivitas Digital Dongkrak Pertumbuhan UMKM
SinPo.id - Konektivitas digital dinilai berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Kajian terbaru PT LAPI ITB menunjukkan pemanfaatan layanan digital berkorelasi dengan peningkatan omzet usaha hingga 32 persen, terutama bagi pelaku UMKM di wilayah non-perkotaan.
Kajian mengenai dampak sosial-ekonomi konektivitas digital di Indonesia itu menyoroti kontribusi infrastruktur digital Telkomsel terhadap pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan UMKM, hingga pemerataan akses layanan digital nasional.
Direktur Utama PT LAPI ITB, Yusmar Anggadinata, mengatakan konektivitas digital saat ini telah berkembang melampaui fungsi dasar sebagai sarana komunikasi.
Menurutnya, konektivitas kini menjadi bagian penting dari infrastruktur ekonomi yang berkaitan langsung dengan produktivitas dan pertumbuhan sosial-ekonomi di berbagai daerah.
“Konektivitas tidak lagi hanya dipandang sebagai layanan, tetapi sebagai infrastruktur ekonomi yang memiliki keterkaitan langsung dengan produktivitas, inklusi, dan pertumbuhan sosial-ekonomi di berbagai daerah,” ujar Yusmar dalam keterangannya, Senin, 25 Mei 2026.
Kajian tersebut menggunakan kombinasi analisis data ekonomi, model regresi, serta survei lapangan terhadap pelaku usaha untuk melihat hubungan antara perkembangan infrastruktur digital dengan aktivitas sosial-ekonomi di berbagai wilayah.
Dalam aspek UMKM, survei menunjukkan bahwa adopsi layanan digital berdampak positif terhadap performa usaha. Rata-rata pelaku usaha mengalami kenaikan omzet hingga 32 persen, dengan tingkat kepuasan pengguna mencapai 92 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa konektivitas digital berfungsi sebagai katalis yang membantu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing pelaku usaha lokal.
Selain dampak terhadap UMKM, kajian juga menemukan adanya hubungan antara pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan pertumbuhan ekonomi regional.
Secara estimatif, setiap penambahan satu base transceiver station (BTS) berkorelasi dengan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp76,19 miliar.
Sementara peningkatan penggunaan data sebesar satu petabyte berkorelasi terhadap kenaikan PDRB sebesar Rp9,44 miliar.
Kontribusi sektor ini terhadap pendapatan negara juga diperkirakan cukup besar, yakni mencapai Rp36,97 triliun pada 2024.
Di sisi pemerataan akses, kajian menyoroti peran strategis perluasan konektivitas di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Hingga 2024, sekitar 92,4 persen BTS program BAKTI di wilayah 3T disebut mendapat dukungan operator nasional melalui skema Universal Service Obligation (USO), yang membantu mengurangi kesenjangan akses digital.
Perluasan jaringan tersebut dinilai membuka peluang masyarakat di wilayah 3T untuk mengakses layanan pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi yang sebelumnya terbatas.
Kajian juga mencatat ekosistem Telkomsel diperkirakan berkontribusi terhadap penciptaan lebih dari 685 ribu lapangan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Namun demikian, Tenaga Ahli Utama PT LAPI ITB, Ian Josef Matheus Edward, mengingatkan bahwa hasil kajian perlu dipahami secara proporsional.
“Kajian ini memberikan gambaran mengenai kontribusi konektivitas berdasarkan indikator yang terukur, namun tidak dimaksudkan untuk mengaitkan seluruh perubahan ekonomi kepada satu entitas tertentu. Oleh karena itu, interpretasi terhadap hasil kajian perlu dilakukan secara proporsional dan kontekstual,” ujarnya.
PT LAPI ITB menegaskan, hasil kajian tersebut merupakan estimasi berbasis metodologi tertentu dan tidak dimaksudkan untuk mengatribusikan seluruh dampak ekonomi kepada satu pelaku industri.
Kajian juga tidak membandingkan antaroperator, melainkan berfokus pada pemahaman peran konektivitas digital dalam mendukung pembangunan nasional.
