Jemaah Diimbau Tak Flexing dan Haji Mumpung Jelang Armuzna

Laporan: Tio Pirnando
Minggu, 24 Mei 2026 | 22:19 WIB
Ketua Musyrif Diny, KH Cholil Nafis (SinPo.id/Dok. MUI)
Ketua Musyrif Diny, KH Cholil Nafis (SinPo.id/Dok. MUI)

SinPo.id - Ketua Musyrif Diny, KH Cholil Nafis, mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia agar menahan diri dan tidak terjebak dalam euforia "haji mumpung" selama masa tunggu menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).  Jemaah diminta untuk membatasi aktivitas fisik yang tidak perlu, seperti ziarah dan jalan-jalan, demi menjaga stamina.

"Pertama, kita jangan 'haji mumpung' ketika dalam masa menunggu ini. Jangan sampai tenaga sepenuhnya digunakan untuk hal-hal yang apalagi hanya main-main atau jalan-jalan. Itu dikendali dulu," ujar Cholil di Makkah, dalam keterangannya, Minggu, 24 Mei 2026. 

Menurut Cholil, ibadah haji merupakan ibadah yang sangat mengandalkan kekuatan fisik. Karena itu, persiapan energi yang matang sebelum memasuki fase puncak haji di Armuzna adalah hal yang mutlak.

"Tolong fokus kepada penyiapan stamina karena nanti haji membutuhkan fisik yang kuat," ujarnya. 

Dia menerangkan, sebagai ganti dari aktivitas ziarah yang menguras energi, jemaah sebaiknya memperbanyak amalan ibadah di dalam ruangan atau hotel tempat menginap. 

Dia mengimbau jemaah untuk fokus fokus berzikir dan beriktikaf. "Jika kondisi fisik tidak memungkinkan, jemaah tidak perlu memaksakan diri setiap waktu shalat harus ke Masjidil Haram. Allah SWT Maha Mengetahui niat baik setiap hamba-Nya," katanya 

Cholil juga meminta jemaah untuk menyempurnakan makanan bergizi dan memastikan waktu istirahat yang cukup.

Selain masalah fisik, Cholil juga menyoroti  terkait penggunaan ponsel berkamera oleh jemaah di tanah suci. Jemaah sebaiknya berhati-hati dan tidak sembarangan merekam, terutama hal-hal yang dilarang seperti melanggar privasi orang lain atau membuat konten iklan di depan Masjidil Haram.

Secara tegas, Cholil mengingatkan agar kamera HP tidak digunakan untuk kepentingan pamer atau flexing. "Jangan sampai kita ini me-shooting untuk kepentingan flexing atau untuk pamer. Karena itu akan menghilangkan pahala-pahala ibadahnya atau dapat menjauhkan dari kemabruran hajinya karena akan menimbulkan rasa riya," tegasnya.

Lebih lanjut, Cholil memetakan tiga model jemaah haji yang ada. Di mana dua di antaranya harus diwaspadai agar tidak ditiru. 

Pertama, adalah tipe jemaah yang pamer, yakni orang yang berhaji hanya untuk gaya-gayaan dan mencari pengakuan sosial. Tipe ini tidak akan mendapat apresiasi dari Allah SWT.

Kedua, rekreasi yakni orang yang menganggap haji sekadar jalan-jalan atau wisata bersenang-senang. Tipe ini tidak akan mendapatkan keutamaan haji yang maksimal.

Dan ketiga, tipe jemaah yang datang semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tunduk, dan taat sepenuhnya walau harus membayar mahal dan menguras fisik. Tipe inilah yang diharapkan ada pada seluruh jamaah Indonesia.

Lebih lanjut, Cholil mendoakan agar seluruh jemaah haji Indonesia diberikan kelancaran dan diampuni dosa-dosanya. Dia berharap jamaah haji tahun ini bisa meniru rekam jejak sejarah para ulama terdahulu.

"Seperti pada para ulama terdahulu, berangkat haji itu pulangnya bisa bikin perubahan terhadap diri sendiri, bahkan bisa membangun peradaban. Dan itu dilakukan oleh para jamaah haji Indonesia pada saat itu sebelum kemerdekaan, sehingga bisa melahirkan kemerdekaan dari para ulama atau jamaah yang berangkat haji pada saat itu," tukasnya. 

 

 

BERITALAINNYA
BERITATERKINI